Jumat, 02 November 2012

SAMUDERA AL-QUR’AN



Lima Belas abad yang lalu terjadi dialog yang monemental antara Nabi dan para sahabatnya. Nabi bersabda, “Umatku akan menghadapi berbagai fitnah.” Para sahabat kontan bertanya, “Apa jalan keluarnya?” Nabi menjawab, “Al-Qur'an, karena di dalamnya terdapat informasi masa lampau dan ramalan masa depan.” Apa yang diramalkan Nabi 15 abad yang lampau ternyata benar-benar menjadi kenyataan. Umat Islam di Indonesia kini tengah di kepung berbagai fitnah, mulai dari hura-hara, kerusuhan, krisis, kemiskinan, dan sebagainya. Sayangnya, resep yang diberikan Nabi di atas sudah banyak dilupakan orang. Orang lebih percaya kepada makhluk dalam menyelesaikan masalah ketimbang al-Qur'an sebagai petunjuk Allah. Al-Qur'an tidak lagi ditempatkan sebagai satu-satunya problem dalam menyelesaikan masalah. Tidak ada jalan lain untuk mengingatkan pesan Nabi di atas selain menunjukkan kembali umat Islam akan perlunya al-Qur'an sebagai rujukan utama dan pertama dalam menyelesaikan masalah hidupnya. Untuk menjadikan sebagai resep, al-Qur'an tidak cukup hanya dibaca atau di-musabaqah-kan pembacaannya, tetapi yang paling penting adalah dipelajari dan diamalkan. Atau, yang di-musabaqah-kan bukan saja pembacaannya, tetapi juga pengamalannya. Hal-hal di ataslah yang yang menjadi latar belakang kenapa buku Samudera al-Qur'an ditulis.
Kata “Samudera” yang digunakan untuk judul buku Samudera al-Qur'an (SQ) sengaja dipakai untuk menjelaskan bahwa al-Qur'an merupakan bahtera nan luas dan tak terbatas (bahr la sahila lah). Judul buku terilhami oleh sebuah karya tafsir besar berjudul al-Bahr al-Muhith (Samudera nan Luas) yang ditulis oleh Abu Hayyan (654-745 H.). Namun, isi SQ sangat jauh berbeda dengan Al-Bahr al-Muhith. Samudera al-Qur'an mungkin hanya sebuah kerikil dari Al-Bahr al-Muhith.
Dalam buku ini, sesungguhnya saya ingin menjelaskan bahwa al-Qur'an mengandung mutiara-mutiara yang terpendam. Mutiata-mutiara itu tidak pernah habis walaupun terus digali. Bayangkan, ribuan bahkan jutaan kitab tafsir pernah ditulis, tetapi mutiara al-Qur'an tidak pernah habis. Bahkan, semakin ke dalam seseorang menyelam, semakin banyak pula mutiara yang didapatkan. Inilah kemu`jizatan al-Qur'an. Satu ayat yang sama dapat dipahami sekaligus oleh beragam orang dengan tingkat kecerdasan yang beragam pula. Satu ayat yang sama dapat dipahami oleh berbagai generasi dengan kavasitas pemahamannya masing-masing. Sebagian kecil keagungan al-Qur'an ini saya kemukakan pada bagian pertama SQ. Keindahan al-Qur'an dari berbagai sisi tidak dapat ditandingi oleh siapa pun. Sejarah membuktikan bahwa setiap orang yang berusaha menandingi kehebatannya selalu berakhir dengan kegagalan. Ini pantas kalau kemudian al-Qur'an tidak saja dikagumi orang Islam sendiri, tetapi juga orang-orang Barat yang bukan Muslim.
Sekedar untuk membuktikan, berikut ini akan dikemukan beberapa kisah nyata. Di Amerika ada seorang bintang cantik yang jadi pujaan segala macam tingkatan manusia. Namanya Jodie Foster. Ia dilimpahi harta kekayaan yang juga melimpahi ibunya, Nyonya Foster. Tetapi perempuan separo baya ini tidak merasakan ketentraman dan selalu gelisah. Malah nyaris ingin melakukan bunuh diri. Pada suatu hari, tanpa sengaja ia membuka-buka sebuah buku aneh yang berjudul The Glorious Qur’an. Membaca kalimat pertama ia tidak mengerti maksudnya. Tetapi setelah beberapa halaman ditekuninya, ia makin tertarik dan merasakan kedamaian tanpa batas. Akhirnya dibelinya buku itu lalu dipelajarinya dengan tekun. Sesudah yakin akan kebenarannya, ia pun lantas masuk Islam dan menikmati keindahan yang damai dalam Islam. Demikian pula yang dialami Profesor muda, Miss Samiah Karberian, yang dilahirkan di Distrik Cambridge, Britania Raya. Iseng-iseng ia membaca beberapa halaman al-Qur'an. Dengan rasa takjub, hampir ia tidak percaya, bahwa dalam kitab tua yang diturunkan pada abad VII M. itu tercantum beberapa penjelasan yang tepat mengenai pengetahuan yang menyangkut geografi dan biologi. Karena dua macam itu merupakan keahliannya, akhirnya ia masuk Islam pada tahun 1978 di mesjid London. (Cerita dikutip dari 30 Kisah Teladan karya Abdurrahman Arroisi, Rosdakarya, Bandung).
SQ sebenarnya pula hanya ingin mengajak para pembaca untuk sama-sama menyelami samudera al-Qur'an. Namun, sebelum menyelam, diperlukan berbagai perangkat yang menghindari kita dari bahaya ikan hiu atau lainnya yang menghalangi kita dari mutiara. Sebelum menyelami kandungan al-Qur'an, kita harus mempersiapkan peralatan berupa Ilmu-Ilmu al-Qur'an agar terhindar dari pemahaman-pemahaman yang keliru. Di dalam Ilmu-Ilmu al-Qur'an, kita akan menemukan rambu-rambu yang harus dilewati agar tidak terjerumus ke dalam penafsiran keliru. Di dalamnya pula, kita akan menemukan seputar kecerdasan para ulama ketika meletakkan teori “sebab pewahyuan” (asbab al-nuzul) dan teori “hirarki penurunan al-Qur'an” (makkiyyah-madaniyyah), teori-teori yang menuntut kita melakukan komunikasi dialogis antara al-Qur'an dengan masyarakat pembaca. Justru dengan teori inilah kita dapat membuktikan bahwa al-Qur'an sanggup berdialog dengan berbagai tingkatan pembaca dan generasi. Model penafsiran adabi-ijtima`i (tafsir sosial-mesyarakatan) yang diusung pertama kalinya oleh Perguruan `Abduh sesungguhnya merupakan implementasi yang baik dan apik untuk teori asbab al-nuzul dan makkiyyah-madaniyyah. Sebagian kecil aturan-aturan Ilmu-Ilmu al-Qur'an saya kemukakan pada bagian kedua SQ.
Ada segudang masalah yang sedang dihadapi orang-orang Islam di Indonesia saat ini, yang notabene tidak dihadapi ulama dahulu. Karenanya, upaya menafsirkan al-Qur'an dengan metode baru, yang tentunya menghasilkan produk penafsiran baru pula, mutlak diperlukan. Belakangan muncul model penafsiran emansipatoris, model penafsiran yang tidak semata-mata sebagai obyek, tetapi sebagai subyek pula. Jadi, titik tekan model tafsir ini adalah problem kemanusiaan, bukan problem teks itu sendiri. Saya kira, semangat tafsir semacam ini sudah banyak dilakukan lulusan-lulusan perguruan Muhammad Abduh seperti Ridha, al-Maraghi, Syaltut, al-Qasimi, dan lainnya. Yang diperlukan sekarang adalah menulis tafsir dengan target mencari solusi al-Qur'an untuk menjelaskan problem orang-orang Islam di Indonesia. Karena itu, diperlukan, misalnya, tafsir al-Qur'an untuk para pejabat pemerintah, tafsir al-Qur'an untuk para LSM, tafsir al-Qur'an untuk mahasiswa, tafsir al-Qur'an untuk para muballigh, tafsir al-Qur'an untuk ibu rumah tangga, dan sebagainya. Saya kira, tafsir semacam ini lebih menyentuh problem kemanusiaan daripada menulis tafsir yang segmennnya tidak jelas.
Untuk menghasilkan produk-produk penafsiran al-Qur'an yang solutif, saya kira perlu adanya kerjasama antara ilmuwan yang kompeten dalam bidang al-Qur'an dengan pemerintah sebagai pihak eksekutif.. Ilmuwan tidak dapat berjalan dengan sendiri. Mereka harus tahu dari pemerintah prioritas program apa yang urgen dicari penyelesaiannya dari sudut pandang nilai-nilai Islam. Kerjasama antara keduanya diharapkan semakin banyak menyelesaikan problem-problem yang sedang dihadapi pemerintah.
Akhirnya, saya berharap semoga SQ menjadi pendorong untuk lebih getol mempelajari dan membumikan al-Qur'an. Wallahu a`lam bi al-shawab.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar