Rabu, 25 April 2012

DASAR ONTOLOGI ILMU MAKALAH


DASAR ONTOLOGI ILMU

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah
Filsafat Ilmu yang dibina oleh Bapak Didin Komarudin, M.Ag

Disusun oleh:
Carim Fajarudin
Darman
Enjen Zaenal Mutaqin



JURUSAN TAFSIR HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN







UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
1432 H/ 2011

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Shalawat dan salam kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, karena atas hidayah-Nya-lah makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini penulis sampaikan kepada pembina mata kuliah Filsafat Ilmu, Bapak Didin Komarudin, M.Ag. sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada bapak dosen yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis dalam mengajar mata kuliah ini.
Penulis memohon kepada bapak khususnya, umumnya para pembaca untuk memberikan saran perbaikan apabila menemukan kesalahan atau kekurangan dalam sistematika penulisan maupun dalam penyampaian isi. Selain itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.






Bandung, 4 Maret 2011

Penulis   





PENDAHULUAN

A.  Bidang Kajian Filsafat
Para filosof berusaha memecahkan masalah-masalah yang penting bagi manusia, baik secara langsung atau tidak langsung. Melalui pengujian yang kritis, filosof mencoba untuk mengevaluasi informasi-informasi dan kepercayaan-kepercayaan yang kita miliki tentang alam semesta serta kesibukan dunia manusia. Filosof mencoba membuat generalisasi, sistematika, dan gambaran-gambaran yang konsisten tentang semua hal yang kita ketahui dan kita pikirkan.
Dari latar belakang kehidupan filosof, kita dapat melihat bahwa mereka berasal dari beraneka ragam profesi, atau latar belakang sosial yang berbeda. Di antara filosof ada yang memimpin agama seperti St. Augustine, Berkeley, yang mencoba untuk memberikan penjelasan filsafatnya dari sudut pandang agama. Beberapa filosof ada yang sebagai ilmuwan, seperti Rene Descartes, yang mencoba menafsirkan arti pentingnya berbagai teori dan penemuan ilmiah. Kemudian John locke, Thomas Hobbes, Karl Marx dan yang lainnya, di mana mereka berfilsafat dengan maksud untuk mempengaruhi perubahan tertentu di dalam organisasi politik masyarakat.
Tanpa melihat tujuan, pekerjaan, dan latar belakang sosialnya, para filosof telah menyumbangkan suatu keyakinan mengenai pentingnya pengujian dan analisis yang kritis terhadap pandangan-pandangan manusia, baik yang bersumber dari pengalaman sehari-hari, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah, maupun yang bersumber dari kepercayaan agama. Para filosof ingin menelusuri lebih mendalam, apakah dapat dibuktikan kebenaran-kebenaran dari pandangan-pandangan dan kepercayaan-kepercayaan manusia itu. Filosof ingin menemukan apa ide dasar atau konsep yang kita miliki, apa dasar pengetahuan kita, dan standar (ukuran) apa yang dipakai untuk membuat pertimbangan yang baik. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaaan semacam ini, filosof merasa bahwa ia dapat mencapai pemahaman yang lebih bermakna tentang alam semesta, dunia, dan manusia.
Titus mengemukakan ada tiga tugas utama dari filsafat ialah:
1)   Mendapatkan pandangan yang menyeluruh.
2)   Menemukan makna dan nilai-nilai dari segala sesuatu.
3)   Menganalisis dan mengadakan kritik terhadap konsep-konsep.[1]
Filsafat tertarik terhadap aspek kualitatif daripada benda-benda atau segala sesuatu, terutama dalam makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak, mengabaikan setiap aspek yang otentik dari pengalaman manusia. Hidup mendorong kita untuk membuat pilihan dan bertindak berdasarkan skala nilai-nilai. Filsafat berusaha memformulasikan makna dan nilai-nilai dalam cara yang paling dapat diterima oleh akal. Filsafat mencoba dan menentukan kebenaran dengan pengujian secara kritis asumsi-asumsi serta konsep-konsep ilmu, semua lapangan ilmu.

B.  Apa yang Dibahas Filsafat
Filsafat adalah berfikir secara radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu. Jadi yang menjadi objek pemikiran filsafat ialah segala sesuatu yang ada. Semua yang ada menjadi bahan pemikiran filsafat. Namun karena filsafat merupakan usaha berfikir manusia secara sistematis, maka disini perlu mensistematisasi segala sesuatu yang ada itu. Kita perlu mengklasifikasikan yang ada.
Immanuel Kant mengajukan empat pokok pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafat, yaitu :
1)   Was darf ich hoffen   : Apakah yang boleh saya harapkan
2)   Was kann ich wissen : Apakah yang dapat saya ketahui
3)   Was sol lich tun         : Apa yang harus saya perbuat
4)   Was is der mench      : Apakah manusia itu.
Menurut Kant, pertanyaan pertama dapat dijawab oleh metafisika; pertanyaan kedua dijawab oleh epistemology; pertanyaan ketiga akan dijawab oleh etika; dan pertanyaan keempat dapat dijawab oleh antropologi (antropologi filsafat). [2]
Butler mengemukakan beberapa pokok masalah yang dibahas dalam filsafat, dalam hal ini ia menyusun sistematika pembahasan filsafat, yaitu :
1.    Metafisika :
a.    Theologi
b.    Kosmologi
c.    Antropologi
2.    Epistemologi :
a.    Hakikat pengetahuan
b.    Sumber pengetahuan
c.    Metode pengetahuan
3.    Aksiologi :
a.    Etika
b.    Estetika[3]
Sidi Gazalba mengemukakan bidang permasalahan filsafat sebagai berikut :
1)   Teori pengetahuan : Apa itu pengetahuan, dari mana asalnya atau sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membentuk pengetahuan yang tepet dan benar, apa yang dikatakan pengetahuan yang benar, mungkinkah manusia mencapai pengetahuan yang benar, dan apa yang dapat diketahui manusia, dan sampai mana batasannya.
2)   Metafisika dengan pokok-pokok masalah : Filsafat hakikat atau ontologi, filsafat alam atau kosmologi, filsafat manusia, dan filsafat ketuhanan atau thedycee.
3)   Filsafat Nilai yang membicarakan : Hakikat nilai, di mana letak nilai (apakah pada bendanya atau pada perbuatannya atau pada orang yang menilainya), kenapa terjadi perbedan nilai antara seseorang dengan orang lain, siapakah yang menentukan nilai, mengapa perbedaan ruang dan waktu membawa perbedaan penilaian. Filsafat ini disebut Aksiologi.[4]


PEMBAHASAN

Metafisika dan Urgensi Teoritik dalam Filsafat Ilmu
A.  Pengertian
Secara etimologis metafisika berasal dari kata “meta” dan ”physika” (Yunani). “meta” berarti sesudah, di belakang atau melampaui, dan physika”, berarti alam nyata. Kata fisik (physic) di sini sama dengan “nature”, yaitu alam. Metafisika merupakan cabang dari filsafat yang mempersoalkan tentang hakikat, yang tersimpul di belakang dunia fenomenal. Metafisika melampaui pengalaman, objeknya di luar hal yang dapat di tangkap panca indra.[5]
Metafisika mempelajari manusia, namun yang menjadi objek pemikirannya bukanlah manusia dengan segala aspeknya, termasuk pengalamannya yang dapat ditangkap oleh indra. Sosiologi mempelajari manusia dalam bentuk kelompok sertya interaksinya yang dapat ditangkap indra serta yang berada dalam pengalaman manusia; begitu juga psikologi, biologi, dan sebagainya.
Namun metafisika mempelajari manusia melampaui atau di luar fisik manusia dan gejala-gejala yang dialami manusia. Metafisika mempelajari siapa manusia, apa tujuannya, dari mana asal manusia, dan untuk apa hidup di dunia ini. Jadi metafisika mempelajari manusia jauh melampaui ruang dan waktu. Begitu juga pembahasan tentanf kosmos maupun Tuhan, yang dipelajari adalah hakikatnya, diluar dunia fenomenal (dunia gejala).

B.  Pembagian Filsafat Metafisika
Metafisika dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu : 1) ontologi, dan 2) metafisika khusus. Ontologi mempersoalkan tentang esensi dari yang ada, hakikat adanya dari segala sesuatu wujud yang ada. Sedang metafisika khusus, mempersoalkan theologi, kosmologi, dan antropologi.
Theologi mempersoalkan pertanyaan sekitar Tuhan, dan hubungan Tuhan dengan dunia realitas. Kosmologi mempersoalkan asal dan struktur dari alam semesta. Sedangkan mempersoalkan siapakah sebenarnya manusia, bagaimana hubungannya satu sama lainnya, bagaimana kedudukannya di dalam kosmos ini, dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan.[6]

1.    Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu, jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Menyoal ontologi sebagai cabang filasafat yang membicarakan tentang hakikat benda, bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ”Apa sebenarnya realitas benda itu? Apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Apakah kedudukan ilmu dalam ruang yang ada ini? Benarkah ilmu itu ada?”[7]
Ontologi adalah salah satu di antara tiga lapangan penyelidikan kefilsafatan. Cabang ini serinng disebut sebagai cabang yang paling tua dan sekaligus paling utama. Thales adalah orang Yunani poertama yang memikirkan persoalan ontologi. Ia adalah seorang filosof bijaksana yang pertama kali merenungkan asal mula penciptaan alam. Atas perenungannya terhadap air yang terdapat di mana-mana, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa air merupakan subtansi terdalam yang menjadi asal mula dari segala sesuatu. Hal terpenting dari pemikiran Thales ini, sebenarnya bukan pada pendapatnya tentang air yang menjadi asal mula terjadinya segala sesuatu, melainkan pada pendiriannya yang menyatakan bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari satu substansi yang sama, yang kemudian disebutnya bersumber dari air.[8]
Bagi semua orang, segala sesuatu dipandang apa adanya secara wajar. Apabila mereka menjumpai kayu, daging, besi, air dan sebagainya, mereka memandangnya sebagai substansi yang berdiri sendiri. Bagi kebanyakan orang pada waktu itu, tidak ada pemilahan antara yang tampak (appearance) dengan yang nyata (reality). Namun, Thales tidak demikian. Ia justru melihat sesuatu itu pada awal kejadian atau awal penciptaannya. Ia tidak melihat realitas benda sebagaimana yang terlihat dalam kasat mata. Perkembangan selanjutnya, para filosof kemudian mengembangkan pemikirannya, khususnya pada sesuatu benda yang ada di balik sesuatau yang nyata. Dengan demikian ontologi menjadi ilmu pengetahuan yang paling universal, yakni membicarakan tentang hakikat sesuatu, baik tentang asal mula penciptaan alam sebagaimana tergambar dalam perspektif pemikiran Thales, dan sesuatau yang ada di balik performa yang terwujud sebagaimana yang tergambar dalam pemikiran Plato.
Ontologi secara sederhana dapat diartikan sebagai sesuatu tentang yang berada. Ia adalah pondasi metafisika, meskipun Ontologi tidak secara otomatis disebut metafisika. Ontologi mengajukan pertanyaan tentang yang berada, yakni sesuatau yang muncul pada setiap orang dan pada setiap saat. Ontologi itu deskriptif, bukan spekulatif. Ontologi berusaha mencari tahu struktur dasar yang dimiliki oleh yang berada. Dari teori hakikat ontologi ini kemudian munculah beberapa aliran dalam filsafat, antara lain: (i) filsafat idealisme; (ii) filsafat materialisme; (iii) filsafat naturalisme.
a.    Idealisme
Idealisme adalah suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukan agar manusia dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Aliran ini menyatakan bahwa yang sesungguhnya ada dalam dunia, adalah idea. Segala sesuatu yang tampak dalam wujud nyata indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya berada dari dunia idea. Realitas yang sesungguhnya bukan pada sesuatu yang kelihatan, melainkan pada sesuatu yang tidak kelihatan. Ada suatu transisi metafisik, berasal dari India Kuno yang memandang bahwa dunia fisik adalah sesuatu ilusi. Pengalaman adalah ilusi. Bahkan keanekaragaman itu adalah rupa belaka. Kelakuan dan jiwa pribadi dianggap tidak mempunyai kepatutan pribadi.
Tokoh cukup penting dalam aliran ini, menurut Lorens Bagus adalah George Barkeley (1685-1753). Menurut George Barkeley, tidak ada substansi material dalam dunia ini. Segala substansi terletak bukan pada aspek fisik melainkan pada substansi idea. Penyebutan kursi atau meja misalnya, ia hanya merupakan koleksi idea yang ada dalam alam pikiran sejauh yang dapat diserap. Pendapatnya ini kemudian dikembangkan oleh Fichte (1762-1831) yang menyatakan bahwa: “yang mengadakan ialah “aku”. Aku sendiri menghasilkan sesuatu yang bukan “Aku”. Dalam lawanan dialektis dengan bukan “Aku” itu, “Aku” menjelmakan dirinya sendiri.
b.   Materialisme
Aliran ini menolak hal-hal yang tidak kelihatan. Menurut aliran ini, yang sesungguhnya ada adalah keberadaannya yang bersifat material atau tergantung sama sekali terhadap materi. Leukippos dan Demokritos (460-370 SM) dapat disebut sebagai cermin filosof awal yang membangun teori ini. Leukippos dan Demokritos berpendapat bahwa: “realitas yang sesungguhnya bukan Cuma satu, melainkan terdiri dari banyak unsur. Unsur-unsur itu sendiri tidak terbagi yang kemudian disebutnya sebagai “atom”. Thomas Hubbes (1588-1679) dapat disebut sebagai pelanjut pemikiran leukippos dan Demokritos. Tokoh abad skolastik ini berpendapat bahwa: “seluruh realitas adalah materi yang tidak bergantung pada gagasan dan pikiran manusia”. Seluruh realitas yang tidak terwujud dalam bentuk materi berada di dalam gerak. Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) berpendapat bahwa ”alam material adalah realitas yang sesungguhnya”. Konsep materialisme inilah, sesungguhnya yang paling dikhawatirkan oleh kaum agamawan. Sebab berkembangnya aliran ini akan membawa konsekwensi pada pengingkaran wujud yang tidak terjangkau oleh alat indera yang sangat terbatas itu, karena ia berwujud di alam yang tidak terwujud dalam perspektif inderawi.
c.    Naturalisme
Naturalisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa apa yang dinamakan kenyataan adalah segala sesuatu yang bersifat kealaman. William R. Dennes termasuk tokoh penting dalam aliran ini. Ia berpagangan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah “kejadian”. Kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan-satuan yang menyusun kenyataan yang ada. Hanya satuan-satuan semacam itulah yang menjadi satu-satunya penyusun dasar bagi segenap hal yang ada. Dalam pandangan kaum naturalistik, terdapat tiga persoalan yang selalu hidup dalam wacana pemikiran kefilsafatan, ketiga persoalan itu adalah: proses, kualitas dan relasi.
Selain Idealisme, Materialisme, dan Naturalisme, ada pula aliran lain dalam ontologi yaitu Dualisme, Skeptisisme, dan Agnostisisme.[9]

2.    Metafisika Khusus
Metafisika khusus adalah cabang filsafat yang paling kuno yang ada dalam objek kefilsafatan. Cabang ini membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia. Persoalan eksistensi ketiga persoalan inilah yang telah menjadi dialektika menarik di awal kelahiran filsafat awal di Yunani kuno yang berhasil melogoskan mitos.
a.    Kosmologi
Kosmologi berasal dari bahasa Yunani, cosmos yang berarti dunia atau ketertiban. Kata ini merupakan lawan dari kata chaos (kacau balau dan tidak tertib). Sedangkan logy (logos) berarti percakapan atau ilmu. Dengan demikian, kosmologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang alam fisik atau jagat raya. Aliran filsafat ini menjadikan jagat raya sebagai objek penyelidikan ilmu-ilmu alam, khususnya ilmu fisika.
Kosmologi membagi alam pada dua jenis penyelidikan. Pertama, alam, fisikdijadikan sebagai objek penyelidikan kefilsafatan. Istilah-istilah pokok yang terdapat dalam fisika, misalnya ruang dan waktu; Kedua, pra-anggapan yang terdapat dalam fisika sebagai ilmu tentang jagat raya. Pembahasan ini entu saja melihat alam dalam perspektif yang pertama. Sebab alam dalam perspektif yang kedua, masuk kedalam wilayah kajian fisika sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan telah tercabut dari filsafat sebagai induknya ilmu pengetahuan.
Kosmologi sebagai aliran metafisika, dengan demikian dapat dipandang sebagai suatu aliaran yang memandang bahwa alam adalah suatu totalitas dari fenomena dan berupaya memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah dalam suatu kerangka yang koheren. Persoalan yang sering dibahas dalam aliaran ini adalah mengenai ruang, waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian. Metode yang digunakannya bersifat rasional. Secara sederhana, kosmologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang hakekat atau asal usul alam semesta. Berhubungan dengan konsep seperti itu, maka kosmologi merupakan tempat persemaian bagi apa saja yang ada, karena ruang dan waktu merupakan keadaan yang nyata dan paling dalam.
b.   Teologi Metafisik
Aliran ini mempersoalkan tentang eksistensi Tuhan yang bebas dari ikatan agama. Eksistensi atau perwujudan Tuhan dibahas secara rasionsl dalam perspektif kefilsafatan. Konsekwensi atas dibahasnya Tuhan, maka Ia telah menjadi objek sistem filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan melalui metode ilmiah. Tuhan dilepaskan dari doktrin-doktrin agama.
Bagi penganut aliran metafisik-teologis, Tuhan ada dan Ia dapat dibuktikan secara rasional. Seluruh makhluk di muka bumi ini merupakan cerminan dari cahaya Tuhan yang maha kudus dan maha kuasa atas segala yang ada. Pendapat ini dalam perkembangan selanjutnya mengkristal dalam aliran filsafat yang disebut dengan monism.
Jika sistem kefilsafatan monisme yang dimaksud, maka sejatinya aliran ini telah ada sejak jaman Yunani Kuno. Aliran ini telah ada dan bahkan termasuk persoalan filsafat yang kokoh  dipertahankan masyarakat. Meski rintangan terhadapnya demikian besar dan terkesan bertolak belakang dengan aliran filsafat formal yang ada. Sejak jaman Parmenides (515-450SM) aliran ini telah ada. Ia menyatakan bahwa: “yang mengada itu mengada; mustahil sekaligus tidak mengada. Andaikan ada kejamakan, itu terjadi lebih disebabkan karena terdapat perbedaan satu sama lain. Jadi, menurut Parmanides, mustahil ada perbedaan dan kejamakan. Adanya kenyataan yang seolah seperti itu hanya khayalan dan semu. Yang mengada hanya satu dan tidak terbagi; bersifat sempurna dan komplet bagaikan bola bulat.
c.    Filsafat Antropologi
Filsafat Antropologi adalah cabang dari metafisika khusus yang membicarakan tentang manusia. Apakah hakekat manusia? Bagaimana hubungan antara manusia dan alam? Bagaimana hubungan manusia dan manusia? Filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut apa adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi maupun status relasinya.
“Kamu tidak dapat mengubah watak manusia”. Pernyataan ini sering ditolak oleh kaum reformer sebagai satu ucapan putus asa dan suatu alasan yang sangat mudah untuk bersikap masa bodoh terhadap kekalutan dunia. Meski demikian, kata-kata itu memiliki aspek positif. Mengatakan bahwa watak manusia tidak dapat diubah berarti bahwa watak manusia itu merupakan suatu kenyataan dan begitu pula bahwa watak tersebut itu sangat berharga.
Plato membagi manusia menjadi dua bagian. Pertama bagian tubuh dan kedua bagian jiwa. Tubuh menurut Plato adalah musuh jiwa. Berbagai kejahatan dilakukan oleh tubuh manusia. Jiwa yang terdapat dalam tubuh yang demikian seperti penjara, jiwa sendiri menurut Plato dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: nous (akal), thumos (semangat) dan epithumia (nafsu). Karena terpengaruh oleh nafsu, maka jiwa manusia terpenjara dalam tubuh.[10]

C.  Metafisika dan Filsafat Ilmu
Bembincangkan persoalan metafisika dan hubungannya dengan filsafat ilmu, sepintas memang seperti berjalan sendiri yang satu sama lain saling tidak terkait. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, hubungan antara keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan dan mungkin hanya dapat dibedakan. Filsafat ilmu berkepentingan membicarakan masalah metafisika lebih disebabkan karena hampir tidak ada satu ilmu pun yang terlepas dari persoalan metafisika. Di samping itu, ada beberapa peran yang diperoleh ilmu pengetahuan melalui pengkajian metafisika. Di antara peran-peran itu adalah:
1.    Metafisika mengajarkan cara berpikir yang cermat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat enigmatik (teka-teki).
2.    Metafisika menuntut originalitas berpikir yang sangat diperlukan bagi ilmu pengetahuan.
3.    Metafisika memberikan bahan pertimbangan yang matang bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama pada wilayah  praanggapan-praanggapan, sehingga persoalan memiliki landasan pijakan yang kuat.
4.    Metafisika membuka peluang bagi terjadinya perbedaan visi di dalam melihat realitas, karena tidak ada kebenaran yang benar-benar absolut.[11]

KESIMPULAN

Metafisika berasal dari bahasa Yunani, meta dan physika. Meta berarti sesudah atau dibalik, sedangkan physika berarti nyata. Jadi metafisika adalah sesudah fisika atau sesuatu dibalik yang nyata. Metafisika dibagi kedalam dua bagian yakni metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus. Ontologi  adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat wujud yang ada. Ontologi bergerak di antara dua kutub, yaitu antara pengalaman akan kenyataan konkrit dan pengertian “pengada” yang paling umum. Dalam pengertian ini kedua kutub saling menjelaskan. Ontologi sering juga disebut sebagai metafisika umum, dalam pembahasannya ontologi melahirkan berbagai alairan filsafat diantaranya:
1.    Idealisme: adalah suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukan agar manusia dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Aliran ini menyatakan bahwa yang sesungguhnya ada dalam dunia adalah idea.
2.    Materialisme: aliran ini menolak hal-hal yang tidak kelihatan, menurut aliran ini hakikat sesuatu adalah materi atau hakikat benda adalah materi benda itu sendiri.
3.    Naturalisme: adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa apoa yang dinamakan kenyataan adalah segala sesuatu yang bersifat kealaman.
Bagian kedua dalam metafisika adalah metafisika khusus. Ini adalah cabang filsafat yang paling kuno yang terdapat dalam objek kefilsafatan. Cabang ini membicarakan tentang alam, Tuhan, dan manusia.







DAFTAR PUSTAKA


Abid, Mohammad, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010
Salam, Burhanuddin, Logika Material Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997
Sumarna, Cecep, Filsafat Ilmu, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001




[1] Burhanuddin Salam, Logika Material Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), hal. 68
[2] Ibid, hal. 69
[3] Ibid, hal. 70
[4] Ibid, hal. 70
[5] Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hal. 43
[6] Burhanuddin Salam, Logika Material Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), hal. 72
[7] Mohammad Abid, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 69
[8] Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hal. 46
[9] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hal. 29
[10] Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hal. 58
[11] Ibid, hal. 58-61

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar