Rabu, 25 April 2012

REVIEW TAFSIR AL-QURAN BACAAN MULIA KARYA HB JASSIN


REVIEW TAFSIR AL-QURAN BACAAN MULIA
KARYA HB JASSIN
Oleh: Darman, Enjen Zaenal Mutaqin, Fahmi Muhammad Tosin

A.    Pendahuluan
Al Qur’an yang dalam memori kolektif kaum muslimin sepanjang abad sebagai kalam Allah, menyebut dirinya sebagai “ petunjuk bagi manusia” dan memberikan “penjelasan atas segala sesuatu” sedemikian rupa sehinggga tidak ada sesuatupun yang ada dalam realitas yang luput dari penjelasannya. Bila diasumsikan bahwa kandungan al Qur’an bersifat universal, berarti aktualitas makna tersebut pada tataran kesejarahan meniscayakan dialog dengan pengalaman manusia dalam konteks waktu. Hal ini juga berlaku dengan kajian tafsir yang ada di Indonesia. Sesuai dengan kondisi sosio-historisnya, Indonesia juga mempunyai perkembangan tersendiri dalam kaitannya dengan proses untuk memahami dan menafsirkan al Qur’an.
 Perkembangan penafsiran al Qur’an di Indonesia agak berbeda dengan perkembangan yang terjadi di dunia Arab yang merupakan tempat turunnya al Qur’an dan sekaligus tempat kelahiran tafsir al-Qur’an. Perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan latar belakang budaya dan bahasa. Karena bahasa Arab adalah bahasa mereka, maka mereka tidak mengalami kesulitan berarti untuk memahami bahasa al Qur’an sehingga proses penafsiran juga  cepat dan pesat. Hal ini berbeda dengan bangsa Indonesia yang bahasa ibunya bukan bahasa Arab. Karena itu proses pemahaman al Qur’an terlebih dahulu dimulai dengan penerjemahan al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia baru kemudian dilanjutkan dengan pemberian penafsiran yang lebih luas dan rinci. Oleh karena itu pula, maka dapat dipahami jika penafsiran al Qur’an di Indonesia melalui proses yang lebih lama jika dibandingkan dengan yang berlaku di tempat asalnya.
Dari segi pembabakan, Howard M. Federspiel pernah melakukan pembagian kemunculan dan perkembangan tafsir al Qur’an di Indonesia ke dalam tiga generasi. Generasi pertama dimulai sekitar awal abad XX sampai dengan tahun 1960-an. Era ini ditandai dengan penerjemahan dan penafsiran yang didominasi oleh model tafsir terpisah-pisah dan cenderung pada surat-surat tertentu sebagai obyek tafsir. Generasi kedua, yang muncul pada pertengahan 1960-an, merupakan penyempurnaan dari generasi pertama yang ditandai dengan adanya penambahan penafsiran berupa catatan kaki, terjemahan kata per kata dan kadang disertai dengan indeks sederhana. Tafsir generasi ketiga, mulai tahun 1970-an, merupakan penafsiran yang lengkap, dengan komentar-komentar yang luas terhadap teks yang juga disertai dengan terjemahnya.
 Kesimpulan yang dikemukakan oleh Federspiel ini tidak sepenuhnya benar. Fakta menunjukkan bahwa pada periode pertama sudah ada karya tafsir yang sudah merupakan penafsiran lengkap seperti Tarjuman al Mustafid karya Abdul Rauf al Singkili dan Marah Labid karya Syekh Muhammad Nawawi. Demikian juga pada periode kedua sudah terdapat tafsir lengkap 30 juz dengan komentar yang luas seperti tafsir al Azhar karya Hamka, hanya saja secara umum karya yang ada memang cenderung seperti yang dikemukakan oleh Federspiel.
Perkembangan terakhir dari kajian tafsir di Indonesia menunjukkan karya tafsir yang mengarah pada kajian tafsir maudhu’i. Hal ini banyak dipelopori oleh Quraish Shihab, yang banyak menghasilkan beberapa buku tafsir tematik seperti Lentera Hati, Membumikan al Qur’an dan Wawasan al Qur’an. Kecenderungan ini kemudian diikuti oleh para penulis yang lain dan makin disemarakkan dengan berbagai kajian tematik dari tesis dan disertasi di berbagai perguruan tinggi Islam.
Dalam konteks perkembangan tafsir di Indonesia, terjemah al Qur’an juga dimasukkan ke dalam bagian karya tafsir karena pada dasarnya terjemah juga merupakan upaya untuk mengungkapkan makna al Qur’an ke dalam bahasa lain. Artinya di dalamnya terdapat unsur interpretasi manusia terhadap ayat-ayat al Qur’an meskipun dalam bentuk yang sederhana, terlebih di dalamnya juga disertai dengan catatan kaki tentang makna satu ayat. Terjemah al Qur’an juga dimasukkan ke dalam bagian karya tafsir karena pada dasarnya terjemah juga merupakan upaya untuk mengungkapkan makna al Qur’an ke dalam bahasa lain. Artinya di dalamnya terdapat unsur interpretasi manusia terhadap ayat-ayat al Qur’an meskipun dalam bentuk yang sederhana, terlebih di dalamnya juga disertai dengan catatan kaki tentang makna satu ayat.
Dalam tulisan ini, penulis akan menyuguhkan review atas tafsir Bacaan Mulia karya HB Jassin yang meliputi biografi penulis, latar belakang penulisan, metode, contoh penafsiran, dan gagasan revolusioner penulis dalam tafsirnya.
B.     Biografi Penulis
Hans Bague Jassin, atau lebih sering disingkat menjadi H.B. Jassin selalu dihubungkan dengan dokumentasi sastra Indonesia dan H.B Jassin adalah orang yang secara penuh mencurahkan perhatiannya kepasda kerja dokumentasi. Itulah sebabnya, orang yang bermaksud mencari informasi tentang sastra Indonesia tidak dapat melepaskan dirinya dengan hasil pengumpulan bahan dokumentasi yang disusun oleh H.B Jassin.Kerja dokumentasi bagi H.B Jassin adalah kerja yang sudah dimulainya sejak mudanya dengan penuh kecintaan.
Ia berasal dari keluarga Islam yang taat. Ayahnya Bague Mantu Jassin, pegawai BPM (Bataafsche Petroleum Maat-schappij), pernah bertugas di Balikpapan, sehingga kota itu meninggalkan kenang-kenang yang manis baginya. Ibunya Habiba Jau, sangat mencintainya. Di kota Medan ia banyak berkenalan dengan seniman dan para calon seniman, diantaranya Chairil Anwar. Dalam perjalanannya pulang ke Gorontalo tahun 1939, ia mampir untuk bertemu dengan Sutan Takdir Alisjahbana di Jakarta. Takdir sengat terkesan dengan Jassin dan mengirim surat ke Gorontalo, menyatakan ada lowongan di Balai Pustaka. Rupanya surat itu berlayar bersama-sama dengan Jassin ke Gorontalo. Untuk menyenangkan orang tuanya, ia bekerja di kantor Asisten Rsiden Gorontalo antara bulan Agustus sampai Desember 1939, sebagai tenaga magang.
Pada bulan Januari 1940, Jassin mendapat izin dari orang tuanya untuk memenuhi permintaan Sutan Takdir Alisjahbana.Pada bulan Februari 1940, H.B Jassin mulai bekerja di Balai Pustaka.Ia mula-mula duduk dalam sidang pengarang redaksi buku di bawah bimbingan Armijn Pane pada tahun 1940-1942 dan kemudian menjadi redaktur majalah Panji Pustaka tahun 1942-1945. Setelah Panji Pustaka diganti menjadi Panca Raya, ia menjabat wakil pemimpin redaksi di tahun 1943 sampai dengan 21 Juli 1947.Tanggal 21 Juli 1947 itulah akhir kariernya di Balai Pustaka.
Setelah keluar dari Balai Pustaka, H.B Jassin secara terus-menerus bekerja dalam lingkungan majalah sastra-budaya. Ia menjadi redaktur majalah Mimbar Indonesia ditahun 1947-1966, majalah Zenith ditahun 1951-1954, majalah Bahasa dan Budaya ditahun 1952-1963, majalah Kisah tahun 1953-1956, majalah Seni tahun 1955 dan majalah Sastra ditahun 1961-1964 dan tahun 1967-1969.
Ia juga pernah menjadi anggota dewan pertimbangan pembukuan Perum Balai Pustaka (1987-1994), anggota Panitia Pertimbangan Pemberian Anugerah Seni Bidang Sastra, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1975), anggota juri Sayembara Kincir Emas oleh radio Wereld Omroep Nederland (1975), anggota Panitia Pelaksana Ujian Calon Penerjemah yang disumpah (1979-1980), Extrernal assessor Pengajian Melayu, Universiti Malaya (1980-1992), anggota Komisi Ujian Tok-Vertlader, Leiden tahun 1972, peserta 29 tahun International Congress of Orientalist, Paris dari tanggal 16-22 Juli 1973, penasehat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditahun 1973-1982, anggota dewan juri Sayembara Mengarang Novel Kompas-Gramedia tahun 1978, ketua dewan juri Sayembara Novel Sarinah di tahun 1983, anggota dewan juri Pegasus Oil Indonesia pada tahun 1984 dan ketua dewan juri Sayembara Cerpen Suara Pembaruan ditahun 1991. 
Pada tahun 1964, ia dipecat dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia karena keterlibatannya dalam Manifes Kebudayaan. Pemecatan itu berlangsung ejak dilarangnya Manifes Kebudayaan oleh Presiden Soekarno 8 Mei 1964 sampai meletusnya G30S/PKI tahun 1965.
Cerpen Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, yang dimuat HB Jassin dalam Sastra, 1971, sempat dianggap ''menghina Tuhan''. Di pengadilan, ia diminta mengungkapkan nama Ki Panji Kusmin sebenarnya. Permintaan ditolaknya. Pada tanggal 28 Oktober 1970 ia dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.
Sejak tahun 1940, H.B Jassin telah mulai membina sebuah perpustakaan pribadi. Pengalaman admisitrasinya selama ia magang di kantor Asisten Residen di Gorontalo sangat berguna bagi pendokumentasian buku.
Pada tanngal 30 Mei 1970, lahirlah Yayasan Dokumentasi Sastra H.B Jassin yang menggantikan Dokumenrasi Sastra, Sejak akhir September 1982 s/d sekarang bangunan itu berdiri dan menempati areal seluas 90 meter persegi dalam komplek Taman Ismail Marzuki, jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.
Sejarah mencatat, sepanjang hidupnya HB Jassin menumpahkan perhatiannya mendorong kemajuan sastra-budaya di Indonesia. Berkat ketekunan, ketelitian dan ketelatenannya, ia dikenal sebagai kritisi sastra terkemuka sekaligus dokumentator sastra terlengkap. Kini, kurang lebih 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang yang dihimpunnya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
Begitu besarnya pengaruh H.B. Jassin di antara kalangan sastrawan, Gajus Siagian (almarhum) menjulukinya “Paus Sastra Indonesia”. Saat itu berkembang suatu ‘keadaan’ dimana seseorang dianggap sastrawan yang sah dan masuk dalam ‘kalangan dalam’ bila H.B. Jassin sudah ‘membabtisnya’. Meski kedengarannya berlebihan namun begitulah adanya.
Saat itu, ada beberapa pengarang yang lama berada di ‘kalangan luar’ sebelum akhirnya diakui masuk dalam ‘kalangan dalam’ seperti Motinggo Busye, Marga T yang aktif produktif mengarang, dan penulis novel pop lainnya. Padahal karya-karya mereka cukup baik, berseni dan bernilai tinggi.Mereka bergabung menjadi ‘kalangan dalam’ karena "pengaruh besar kepausan" H.B. Jassin.H.B. Jassin jugalah yang menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan '45.Lebih dari 30 tahun, julukan itu disandangnya.
Jassin rajin dan tekun mendokumentasikan karya sastra, dan segala yang berkaitan dengannya.Dari tangannya lahir sekitar 20 karangan asli, dan 10 terjemahan. Yang paling terkenal adalah Gema Tanah Air, Tifa Penyair dan Daerahnya, Kesusasteraan Indonesia Baru Masa Jepang, Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (empat jilid, 1954-1967) dan tafsir Alquran dalam buku Qur'an Bacaan Mulia. Pada saat ulang tahunnya ke-67, PT Gramedia menyerahkan ''kado'' buku Surat-Surat 1943-1983 yang saat itu baru saja terbit. Di dalamnya terhimpun surat Jassin kepada sekitar 100 sastrawan dan seniman Indonesia.
H.B. Jassin mempunyai prinsip kuat dan jujur.Mengomentari buku Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, ia menilainya tidak mengandung hal-hal yang melanggar hukum.Pelarangan terhadap buku itu lebih banyak karena dikarang oleh bekas tokoh lekra.
Wafat
Pria gemuk pendek ini menikah tiga kali.Istri pertama, Tientje van Buren, wanita Indo yang suaminya orang Belanda yang disekap Jepang, pisah cerai. Lalu Arsiti, ibu dua anaknya, meninggal pada 1962. Sekitar 10 bulan kemudian ia menikahi gadis kerabatnya sendiri, Yuliko Willem, yang terpaut usia 26 tahun. Yuliko juga memberinya dua anak. Dari kedua istri ini, ia memiliki empat anak, yakni Hannibal Jassin, Mastinah Jassin, Yulius Firdaus Jassin, Helena Magdalena Jassin, 10 orang cucu, dan seorang cicit.
Ia meninggal pada usia 83 tahun, Sabtu dini hari, 11 Maret 2000 saat dirawat akibat penyakit stroke yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun di Paviliun stroke Soepardjo Rustam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Sebagai penghormatan, ia dimakamkan dalam upacara kehormatan militer "Apel Persada" di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.
RIWAYAT SINGKAT
Nama :Hans Bague Jassin
Lahir :  Gorontalo, 31 Juli 1917
Wafat :11 Maret 2000
Pendidikan :SD, Gorontalo (1932),HBS Medan (1939),Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1957),pernah kuliah di Universitas Yale, Amerika Serikat (1959),Doctor Honoris Causa dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1975),menguasai bahasa Inggris, Belanda, perancis dan Jerman.
Profesi :Sekretaris redaksi Pujanggan Baru (1940-1942), Penasehat Balai Pustaka (1940-1952), Gapura (1949-1951), Gunung Agung (1953-1970), Nusantara (1963-1967), Pustaka Jaya (1971-1972), dan Yayasan Idayu (1974-1992), Redaksi penyusun Daftar Pustaka Bahasa dan Kesusastran Indonesia  (1969-1972).Redaksi penyusun buku dr. Irene Hilgers-Hesse (editor), Perlenim Reisfeld (1972).Redaksi penyusun Almanak sastra Indonesia I Daftar Pustaka (1972).Penasehat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1973-1982).
Prestasi :Tokoh Pembukuan Nasional (2 Mei 1996), Penghargaan dari pengurus pusat IKAPI atas jasa-jasanya kepada perbukuan di Indonesia (17 Oktober 2000)
Karya Tulis :Tifa Penyair dan Daerahnya (1952),Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Esei I-IV (1954),Heboh Sastra 1968 (1970),Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia (1983),Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983),Surat-Surat 1943-1983 (1984),Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa (1993),Koran dan Sastra Indonesia (1994),
Darah Laut : Kumpulan Cerpen dan Puisi (1997),Omong-Omong HB. Jassin (1997).
C.    Latar Belakang Penulisan
Ketika istri HB Jassin meninggal dunia pada 12 Maret 1962, peristiwa ini cukup menggugah beliau. Dalam pengajian selama tujuh malam, dia mengaji terus sampai selesai 30 juz dalam tujuh hari. Pada malam kedelapan, ketika rumah sepi, dia meneruskan mengaji seorang diri. Tidak puas dengan sekedar membaca saja, dia mulai mempergunakan beberapa buku terjemahan untuk mendalami dan meresapi isi kitab suci itu.
Berikut ini adalah kutipan tulisan HB Jassin pada pendahuluannyadalam tafsir Bacaan Mulia:
Saya merasa tumbuh jiwa dan pengetahuan saya karena menyelami hikmah-hikmah yang terkandung dalam al-Quran, ayat-ayat yang mustahil adalah bikinan manusia tapi firman-firman Tuhan sendiri. Keyakinan ini saya resapi kebenarannya, karena ayat-ayat itu meliputi masalah-masalah kehidupan yang amat luas serta tinggi dan dalam maknanya.
Saya merasa mengisi jiwa saya dengan firman-firman Tuhan sehingga firman-firman itu menjadi nafas saya, menjadi darah yang beredar ditubuh saya, menjadi daging saya. Hari demi hari saya menyelami dan meresapi isi al-Quran, keyakinan bertambah mantap dan padat. Saya menghadapi hidup dengan hati yang aman dan tenteram.
Sepuluh tahun lebih saya menyelami ayat demi ayat, tidak satupun hari yang lewat tanpa menghirup firman Tuhan, sekalipun hanya seayat dalam sehari. Ujian demi ujian menimpa pula bahkan pernah saya dituduh murtad dan berhadapan dengan hakim pengadilan atas tuduhan telah menghina Tuhan, menghina agama Islam, Rasul dan Nabi-nabi, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. Tapi semua itu saya terima sebagai cambuk untuk lebih dalam menyelam kedalam inti hakikat dan saya anggap sebagai karunia dari Tuhan Yang Mahaesa.
Sampai tibalah suatu hari hati saya terbuka untuk mulai menterjemahkan al-Quran, setelah tanggal 7 Oktober 1972, di negeri dingin yang jauh dari katulistiwa yakni di negeri Belanda. Pikiran untuk menterjemahkan al-Quran secara puitis timbul pada saya oleh membaca terjemahan Abdullah Yusuf Ali The Holy Quran yang saya peroleh dari kawan saya, Haji Kasim Mansur tahun 1969. Itulah terjemahan yang saya rasa paling indah disertai keterangan-keterangan yang luas dan universal sifatnya.
Untuk menimbulkan kesan yang estetis penyair mempergunakan irama dan bunyi. Bukan saja irama yang membuai beralun-alun, tapi juga- jika perlu- irama singkat melompat-lompat arau tiba-tiba berhenti mengejut untuk kemudian melompat lagi penuh tenaga hidup. Bunyi yang merdu didengar, ulangan-ulangan bunyi bukan saja diujung baris, tapi juga diantara baris, mempertinggi kesan keindahan pada pendengar atau pembaca.
Didalam persajakan Indonesia bunyi bergaung am, an dan ang dan bunyi sukukata-sukukata yang terbuka menuimbulkan kesan yang merdu. Bahasa Indonesia ternyata kaya akan aneka ragam bunyi sehingga tidak sukar untuk mencari kata-kata yang bagus kedengarannya demi persajakan diujung baris, diantara baris ataupun ditengah baris.
Dibawah ini sebuah contoh mengatur irama dengan mengobah letak perkataan sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya. Didalam surah (26) asy-Syu’ara dikisahkan Firaun meminta pertimbangan kepada para pembesarnya apa yang harus dilakukan untuk melawan Musa.
Mereka menjawab: Suruhlah tunggu (Musa) dan saudaranya, dan kirim ke kota-kota para bentara.” (26:36)
Pada hemat saya lebih bertenaga dan penuh ancaman rasanya jika baris terakhir disusun demikian:
Dan kirim para bentara ke kota-kota.
Dibawah ini sebuah contoh perbedaan pilihan kata yang menimbulkan perbedaan penghayatan estetis secara audiovisual. Surah (61) ash-Shaf ayat 2 kita lihat diterjemahkan:
Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
Dapat dipuitisasikan demikian:
Mengapa kamu katakan
Apa yang tiada kamu lakukan?

D.    Gagasan Revolusioner
H.B. JASSIN bangkit dari kursinya, menuju mimbar dan mengucapkan salam. "Saudara-saudara", katanya."Saya bukanlah seorang ahli dan sayapun tidak ahli bahasa Arab.Karena itu saya minta saudara-saudara membantu saya dan janganlah Mengganyang saya".Hadirin yang telah berkumpul untuk salah-satu acara dalam keramaian Musabaqah Tilawatil Quran Nasional ke VIIl di Palembang yang lalu (TEMPO 6 September), tertawa penuh mengerti. Mereka juga mengikuti dengan simpati ketika Jassin membacakan ceramahnya sepanjang 11 halaman menuturkan pengalaman pribadinya mengapa ia sampai tertarik kepada Quran dan kemudian berusaha menterjemahkannya secara puitis (lihat box). Begitulah pelan-pelan pembicaraan lantas memasuki masalah-masalah teknis penterjemahan -- dan hadirin hening sebagian kening mulai berkerut.Tak ayal lagi masalah teknis penterjemahan bukanlah masalah kecil.
Beberapa perbedaan pemahaman ayat sendiri sebagaimana biasanya sudah cukup menimbulkan debat ilmiah. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa yang melakukan penterjemahan justru seorang doktor sastra Indonesia. Tokoh ini sama sekali tidak dikenal dalam bidang ilmu-ilmu Qur'an juga mengaku bukan ahli dalam bahasa Arab. Tak heran bila pembanding ceramah Drs H. Husin Abdul Mu'in yang sehari-harinya Kepala Perwakilan Departemen Agama Sumatera Selatan di samping dengan sangat simpatik menyatakan penghargaannya kepada niat yang ikhlas dari penterjemah juga memberi semacam usul yang halus untuk berhati-hati.Tidak Beragama Islam Hadirin setidak-tidaknya para ustaz yang banyak pengetahuan memang kelihatan berusaha untuk tetap berlapang fikiran.
Namun agaknya ada persoalan: sebagian sumber-sumber bandingan Jassin di samping kitab-kitab tafsir bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris dari dunia Islam juga buah tangan para penterjemah Barat yang sebagiannya diketahui tidak beragama Islam. Lagi pula difikir-fikir apa sih perlunya puitisasi itu dalam penterjemahan Qur'an? Alasan Jassin diberikan secara sederhana. Terjemahan yang sudah dikerjakan orang dalam bahasa Indonesia (menurut Jassin sudah berjumlah kira-kira 10) semuanya ditulis dalam bahasa prosa. Dan hal itu tiada mengherankan karena yang dipentingkan oleh para penterjemah yang pada umumnya adalah guru-guru agama ialah kandungan kitab suci itu.
Padahal sebenarnya bahasa Qur'an sangat puitis dan ayat-ayatnya dapat disusun sebagai puisi dalam pengertian sastra -- walaupun dalam setiap mushaf (buku Qur'an) ayat-ayat itu secara visuil disusun sebagai prosa .Maka tampaklah Jassin memandang prosa dan puisi pertama kali dari segi visuil dari segi tata-muka.Ia sendiri menyatakan bahwa perbedaan sebuah puisi dari prosa biasanya lantaran puisi disusun tidak baris demi baris yang panjangnya memenuhi muka halaman, akan tetapi baris demi baris yang panjangnya memenuhi sebagian muka halaman saja. Ia memberi contoh. Surah Yusuf ayat 3 biasanya diterjemahkan begini: Kami ceritakan kepadamu kisah yang paling indah dengan mewahyukan kepadamu (bagian) Quran ini, meskipun kamu sebelumnya orang yang tiada sadar (akan kebenaran). Dan dengan susunan berikut ia menjadi puisi: Kami ceritakan kepdamu kisah yang paling Indah Dengan mewahyukan kepadamu. (bagian) Quran ini, Meskipun kamu sebelumnya orang yang tiada sadar (akan kebenaran). Sudah tentu sebagaimana dikatakan Jassin tidak semua baris prosa bisa dirobah menjadi puisi dengan hanya merobah susunan.
Namun dengan cara pendekatan itu apakah puisi seperti dimaksud Jassin? Sementara Jassin menyaakan bahwa bahasa Qur'an sangat puitis puisi Qur'an itu justru tidak diungkapkan dalam kalimat terpotong-potong. Dengan kata lain puisi Quran tidak sekedar kalimat terpotong-potong. Tapi pengertian puisi sebagai bentuk Susunan kalimat itulah yang sering dipakai para penterjemah puitis yang sudah lebih dulu mencoba seperti Mohamad Diponegoro atau Djamil Suherman. Lebih-lebih Abdullah Yusuf Ali Beirut--yang menurut Jassin merupakan penterjemah puitis yang paling indah dan yang mendorong dia melakukan hal serupa dalam bahasa Indonesia. Sudah tentu perasaan enak dan tidak enak terhadap sesuatu terjemahan hampir selalu bersifat relatif.Tapi justru sebagian orang mengatakan bahwa diukur dengan citarasa puisi terjemahan Yusuf Ali justru kalah indah dibanding terjemahan Mohamad Marmaduke pikcthall yang disusun secara ayat aslinya.Sebab mungkin saja lebih dari Yusuf Ali Pickthall berangkat dari penguasaan terhadap citarasa bahasa aslinya lantas menuangkan ke dalam terjemahan berdasar penguasaan citarasa bahasa Inggeris tanpa bertolak dari pola bentuk yang lazim disebut syair atau sajak.Karena bertolak dari bentuk itulah agaknya salah-satu alasan mengapa Mohamad Diponegoro menyebut hasil karyanya (terjemahan juz XXX dan belum diterbitkan) sebagai puitisasi terjemah Qur'an dan bukan terjemah puitis Qur'an. Tetapi barangkali menarik bahwa dengan berpijak pada citarasa dan suasana asli, 'dalam arti menghadapi Quran sebagai karya puisi', akan melahirkan hasil yang bisa jauh berbeda dari terjemahan lazim. Antara lain: terjemahan tidak lagi akan mengguru-gurui atau lebih mementingkan kandungan makna semata-mata menurut istilah Jassin.
Sudah diketahui bahwa yang selama ini galib disebut terjemahan Quran (bukan tafsir) sebenarnya toh bukan hanya terjemah - melainkan plus keterangan--yang hampir selalu diletakkan dalam kurung.Sebuah kalimat dalam Qur'an kadang-kadang mungkin memang tidak jalan menurut logika tatabahasa sehari-hari.Tetapi betulkah keadaan tidak jalan tersebut bukan merupakan satu bagian tak terpisahkan dari puisi--dan karenanya orang haruslah mengangkat seperti aslinya dan kalau perlu memberinya catatan kaki seperti dalam tafsir? Maka barangsiapa melihat konsep terjemahan Jassin - yang sekarang sudah ada di penerbit -- maupun terjemahan Yusuf Ali orang akan tahu bahwa sesungguhnya puisinya hanya bentuk bukan semangat tenaga atau dorongan puitik. "Tangan Allah" Tetapi untunglah Jassin juga menggarap puisi Quran dengan mempertahankan suasana puitiknya. Berbeda dari terjemah-terjemah yang laim Jassin misalnya tidak menterjemahkan 'Wajah Allah' dengan 'Kebesaran/Pengetahuan Allah' tidak pula 'Tangan Allah' dengan 'Kekuasaan Allah'. Dalam terjemahan Departemen Agama awal ayat 35 Surah Nur yang berbunyi Allahu nuurussumawati wal-ardh diterjemahkan dengan: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi". Dalam hal ini Jassin berbeda: ia menterjemahkannya persis seperti ayat aslinya: "Allah Cahaya langit dan bumi - dan menyerahkan pengertian "cahaya" itu kepada Quran sendiri atau kepada tafsir. Begitu pula tidak menterjemahkan an la taziru waziratun wizra ukhra dengan: "bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain" -- seperti terjemah Departemen Agama maupun Mahmud Yunus. Melainkan: Bahwa tiada pemikul beban Akan memikul beban orang lain dan hal itu sama dengan yang diperbuat Yusuf Ali maupun Hashim Amir Ali - secara lebih langsung kepada kata aslinya. Lebih lagi ayat yang sangat populer - tentang penciptaan semesta.Semesta dalam terjemahan Jassin diciptakan Tuhan tidak dalam enam masa - seperti umumnya ditulis para penterjemah Indonesia.Melainkan enam hari sesuai dengan bunyi ayatnya. Tentu saja kata Jassin orang bisa menafsirkan hari dengan 'masa' atau 'abad' tapi itu soal lain.
Di sinilah tiba-tiba kelihatan peranan -- yang mungkin kedengaran agak asing - dari para penterjemah puitis .Bahwa mereka selayaknya membiarkan pembaca menerima bagian-hagian Quran yang masih utuh - yang sebenarnya menimbulkan kenikmatan religius tersendiri.Tidak justru membuyarkannya semata-mata dengan semangat mau rasionil yang tak jarang merobah pengertian ayat yang dalam dan penuh rahasia menjadi sesuatu yang datar.Tetapi Jassin melihat contoh-contoh terjemahannya yang digelarkan di Palembang itu, tidak sepenuhnya mengambil peranan itu.
Ia misalnya menganggap kalimat Quran yaqbidluna aidiahum tidak dapat diterjemahkan secara persis sebab akan berbunyi: mereka mengepalkan tangan. Orang bisa salah faham dan karena itu ia menterjemahkannya menurut maksud: mereka berlaku bakhil. Di sinilah orang boleh setuju pada kritik pembanding Husin Abd. Muin: bahwa Jassin (yang sudah berniat untuk kembali ke pokok pangkal itu) justru suka menggunakan kata-kata Indonesia yang dalam bahasa Arab sebetulnya sudah ada yang lain. Berlaku bakhil misalnya dalam bahasa Arab adalah yabkhalun. Jadi mengapa ia tidak menterjemahkan -- misalnya -menggenggamkan (bukan mengepalkan) tangan? Maka ramailah orang di Palembang itu. Contoh-contoh yang dikemukakan Jassin rupanya menggerakkan para peserta diskusi tersebut sebagiannya dengan semangat ilmiah yang ikhlas untuk akhirnya tidak memenuhi harapan Jassin agar jangan "mengganyang" dia. Cobalah: Jassin mengganti terjemahan "yang memelihara sembahyang" dengan "yang setia menjalankan sembahyang". Jatuh pada dagu (muka) mereka dalam sujud dengan jatuh sujud dengan kerendahan hati. Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya dengan" ....di dalamnya". Orang seakan-akan meminta pertanggungjawaban Jassin pada pengetahuannya dalam berbagai cabang ilmu bahasa Arab.Meyembah Matahari Padahal tanpa menuntut demikian tak ada seorang yang tidak tahu bahwa perbedaan dalam terjemah terdapat justru dalam karya para ulama sendiri. Misalnya: dalam diskusi tersebut Husin Abd. Mu'in mengkritik Jassin karena menterjemahkan yasjuduna lisy-syamsi min dunil-Lah dengan: "Mereka menyembah matahari dan bukan Allah" - sebagai ganti selain Allah seperti dalam terjemah-terjemah lain. Alasan Jssin: karena mereka itu tidak menyembah Allah sama-sekali. Padahal menurut Husin: mereka itu menyembah Allah juga dan menyembah matahari sebagai perantaraan Allah atau perwujudan Allah atau di samping Allah. Husin jelas kuat. Tapi yang sama dengan Jassin bukan tidak ada: A. Hassan, Pickthall Maulana Muhammad Ali! Sedang yang sejalan dengan Husin rupanya adalah terjemahan Departemen Agama.Begit pula sungai-sungai di dalam surga (Jassin) atau di bawah surga (Husin). Pickthall sama dengan Husin underneathl. Sedang A. Hassan sama dengan Jassin (padanya). Jassin sendiri menyebut contoh sukarnya penterjemahan yang justru mengantarkan setiap penterjemah pada kontroversi. Misalnya Surah 24 :19: Innalladzina yuhibbuna an tasyi'al fahisyatu fil-ladzina amanu lahum 'adza bun alim. Terjemah Yusuf Ali: * Those who love (to see) scandal published broadcast A mong the believers, will have A grievous penalty * Sedang terjemah AJ Arberry: Those who love that indecency should be spread about concerning them that believe - there awaits them a painful chastisement * Perbedaan itu mungkin karena kata filladzina amanu dalam bahasa Arab bisa berarti 'di kalangan orang mukmin' tapi juga 'mengenai orang mukmin'. Maka Jassin lantas melihat asbabun nuzul (sebab-sebab turun ayat).Ketahuan ayat itu berkenaan dengan peristiwa Ifk, di mana Aisyah isteri Nabi kena fitnah dan fitnah itu disebarkan di kalangan orang mukmin.Jassin lantas menganggap terjemah Yusuf Ali lebih tepat.Menarik bahwa Pickthall (yang buku terjemahannya -- tanpa teks Quran! -- disahkan oleh Senat Dewan Universitas Al-Azhar) justru sama penterjemahannya dengan Arberry (yang bukan Islam itu). Maka tampaklah di sini bahwa doktor sastra ini bukan tidak berhati-hati dengan mempelajari latar-belakang dan seluk-beluk. Setelah ia menyatakan dalam forum Palembang itu bahwa saya bertolak dari Kitab induk Al-Quranul Karim sendiri..jadi terjemahan saya bukanlah terjemahan dari terjemahan...". ia dalam pekerjaannya mempergunakan sebagai perbandingan 19 terjemah Qur-an (9 bahasa Inggeris 1 Perancis, 1 Belanda, 2 Jerman, 6 Indonesia) 7 kitab sejarah Quran dan Tafsir (2 Indonesia, 4 Inggeris, 1 Jerman) 4 kamus dan konkordansi (1 Arab-Jerman dan 3 Arab-lnggeris). Adapun kitab-langsung dari bahasa Arab?Sudah tentu tak ada.Dan itulah yang bagi rakyat muslimin betapapun juga dirasa kurang layak.Orang memang lazim mengharapkan sesuatu yang resmi.Itu ada baiknya. Tapi kenyataan toh menunjukkan bahwa Quran adalah begitu populer hingga hampir tak seorang muslim tidak mengenalnya apa lagi bila ia telah sungguh-sungguh mempelajarinya walaupun lewat sarana yang tidak resmi. Maka seorang muslim - yang perhatiannya maupun kebiasaannya tidak terpisahkan dari Quran - mempelajari dengan tekun hanya satu tafsir yang bonafid saja sedang ia sendiri mengerti bahasa Arab secara pasif meskipun tidak mendalam sudah bisa dijamin bahwa ia bukan lagi orang luar. Dan Jassin termasuk orang seperti itu. Ia 10 tahun lamanya--seperti dinyatakannya - mempersiapkan diri dengan segala terjemah dan tafsir sedang ia sendiri tidak pula asing dari bahasa Arab. Jassin barangkali hanyalah seorang yang tidak suka memamerkan kepandaian (jarang sekali misalnya orang tahu bahwa iamenguasai bahasa-bahasa Inggeris, Jerman, Perancis, dan Belanda - sebab bila Jassin berbahasa Indonesia tidak akan terdengar satu patah kata asing). Begitupun Jassin ada tiga tahun mempelajari bahasa Arab dari AS Alatas dosen Fakultas Sastra UI dan penterjemah Majdulin Al-Manfaluthi--selain pelajaran ilmu-ilmu Islam dari islamolog terkenal Prof. Pangeran Arjo Hoesin Djajadiningrat.Jassin juga menterjemahkan buku pelajaran theologi elementer Jawahirul Kalamiyah sebagai latihan dahulu. Hanya ia memang tidak secara langsung mempelajari ilmu-ilmu seperti Ma ani-Bayan-Badi yang merupakan gerbang bagi penguasaan ilmu-ilmu alat untuk seorang pentafsir (bukan sekedar penterjemah) Quran. Namun di atas segala-galanya tidak percayakah anda bahwa menterjemahkan Quran dilihat dari segi teknis sebenarnya jauh lebih mudah dibanding menterjemahkan sebuah syair atau karya sastra Arab? Sebab bandingan sudah demikian banyak.Orang toh pada akhirnya lebih cenderung melihat hasilnya.Yakni apakah terjemahan Jassin memang bisa dipertanggung jawabkan.Dan di rumah kontraknya yang kecil di Tanah Tinggi Jakarta Jassin menyatakan bahwa kritik seperti yang diterimanya di Palembang itu adalah kritik-kritik yang bisa dihadapkan dengan kitab terjemah yang mana juga sebab tidak ada satu terjemahan yang disepakati semua orang. Quran itu katanya demikian besar sehingga tidak akan habis diterjemahkan. Toh ia menyatakan beberapa hal yang diterimanya di Palembang itu ada mempengaruhi dia. Ia sendiri kalau perlu akan meminta pendapat orang dalam koreksi terakhir naskah yang kini contohnya sudah ada di penerbit itu. Yang jelas kelihatan adalah manfaat dengan lahirnya terjemah puitis itu. Pertama segi perhatian yang lebih besar terhadap bahasa Indonesia dalam dunia penterjemahan Quran. Sebab problim ini memang cukup mengganggu.Terjemahan Departemen Agama sendiri tidak bisa dikatakan bagus dari segi itu.Lebih-lebih terjemahan Ustadz Mahmud Junus maupun juga Prof. Hasbi Ash Shiddieqy.Dan lebih parah -- maaf-- adalah terjemahan Ustadz Hassan dari Persis yang masyhur itu.Di sinilah bisa dilihat bahwa ilmu-ilmu bahasa Arab dan seluk beluk Quran saja tidak cukup. Perlu juga kemampuan menyatakannya dalam bahasa Indonesia yang tidak kaku, misalnya kalimat "Allah memberi petunjuk" pada Hassan kadang diterjemahkan dengan "Allah memberi petunjukan" (lihat misalnya Al-Baqarah 70). Jassin sendiri dalam ceramahnya mengatakan bahwa "kekakuan dalam terjemahan mungkin timbul karena terlalu mengikuti konstruksi kalimat Arab dengan tidak memperhatikan rasa bahasa Indonesia". Jassin memberi contoh terjemahan S. Yusuf 29: "Sungguh jika kau menyembah Tuhan selain aku pasti aku akan menjadikan kau salah-seorang yang dipenjarakan". Lantas ia mengganti kalimat terakhir itu dengan "pasti kumasukkan kau ke dalam penjara" (sebab orang yang dimasukkan ke penjara menjadi salah-seorang yang dipenjarakan bukan?). Selain itu Jassin menterjemahkan ungkapan-ungkapan menurut jalan bahasa Arab ke dalam ungkapan Indonesia. Misalnya: bainana wa bainakum (secara harfiah berarti: antara kami dan antara kamu) diganti dengan: "antara kami dan kamu" atau "antara kita". Ungkapan bahasa Arab "mati dan hidup" atau "malam dan siang" tentu saja ia pulangkan ke dalam ungkapan kita menjadi "hidup dan mati" siang dan malam. Kata sambung wa tidak selalu berarti dan. Tapi juga 'karena', 'sedang', sementara.Bisa juga dianggap hanya berfungsi sebagai koma atau titik. Fa sebaliknya bisa diterjemahkan dengan 'maka', 'karena itu' atau bahkan tidak ia terjemahkan sama sekali. Syahdan dalam khazanah terjemah Quran Indonesia sekarang sudah lahir pula Tafsir Al-Azhar dari Hamka yang sampai sekarang belum terbit komplit.Tafsir ini harus dibilang karya yang paling bagus bahasanya - dengan catatan Hamka sebagai ulama terpandang lebih menitik beratkan pada kandungan ilmiah ayat daripada puisi Quran sendiri.Sebaliknya dengan terjemah Jassin. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya ia akan merupakan satu kenyataan yang penting dari dua jurusan: dari jurusan pemakaian bahasa yang baik dan pengenalan sastra Indonesia luas ke tengah rakyat dan dari segi artinya sebagai satu monumen dalam dunia sastra Indonesia. Toh bagi Jassin arti pekerjaannya itu tampak sederhana saja: sebuah persembahan yang dikerjakan dengan susah-payah. Sebuah bukti ibadah.
E.     Contoh Penafsiran
Berikut ini adalah terjemahan HB Jassin untuk suratan-Naml (27) ayat 59-66:

Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,
Dan selamat sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang telah dipilih-Nya.
Apakah Allah yang lebih baik,
Atau apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)?”

Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi,
Dan yang menurunkan bagimu hujan dari langit?
Ya, dengannya Kami tumbuhkan
Kebun-kebun buah-buahan yang indah.
Tiadalah kamu mampu menumbuhkan pohon-pohon didalamnya.
(Mungkinkah) ada sembahan (lain) disamping Allah?
Tidak, tapi mereka adalah kamu yang menyimpang (dari Kebenaran).

Atau siapakah yang menjadikan bumi,
Tempat kediaman yang kukuh kuat?
Yang menempatkan sungai-sungai ditengah-tengahnya,
Yang memancangkan gunung-gunung diatasnya,
Dan menaruh sekatan antara kedua lautan?
(Mungkinlah) ada sembahan (lain) disamping Allah?
Tidak, tapi kebanyakan mereka tiada tahu.

Atau siapakah yang memperkenankan (permohonan) orang dalam kesulitan,
Jika ia menyeru (Tuhan),
Yang menghilangkan keburukan,
Dan menjadikan kamu khalifah dimuka bumi?
(Mungkinkah) ada Tuhan (lain) disamping Allah?
Alangkah sedikit kamu mengambil peringatan!

Atau siapakah yang membimbing kamu
Dalam kegelapan di daratan dan di lautan,
Dan siapakah yang mengirimkan angin
Sebagai pembawa kabar gembira,
Mendahului rahmat-Nya?
(Mungkinkah) ada Tuhan (lain) disamping Allah?
Mahatinggi Allah diatas apa yang mereka persekutukan Ia!

Atau siapakah yang pertama kali memulai ciptaan,
Kemudian mengulanginya?
Dan siapakah yang memberi kamu rezeki dari langit dan bumi?
(Mungkinkah) ada Tuhan (lain) disamping Allah?
Katakanlah, “Bawalah bukti yang nyata,
Jika kamu berkata benar!”

Katakanlah, “Tiada yang tahu di langit dan di bumi apa yang gaib,
Kecuali Allah.
Dan tiada mereka tahu apabila mereka dibangkitkan.

Tiada pula ilmu mereka sampai kepada (ilmu) akhirat,
Bahkan mereka dalam keraguan mengenai hal itu
Tidak, mereka buta untuk itu.

Bandingkan dengan terjemahan penerbit Algesindo seperti dibawah ini:

Katakanlah (Muhammad), “Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hambanya yang dipilih-Nya.  Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)?”
Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya.  Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).
Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan
dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmatNya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Mahatinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan.
Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (mahluk) dari permulaannya kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan(yang lain)?
Katakanlah, “Kemukakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang yang benar.”
Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.  Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”
Bahkan pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana).  Bahkan mereka ragu ragu tentangnya (akhirat itu).  Bahkan mereka buta tentang itu.

F.     Metode
Secara format, buku Jassin ini tidak ada bedanya dengan Al-Qur'an dan terjemahannya yang diterbitkan oleh Departemen Agama.Disisi kanan halaman ada teks al-Qur'an dalam tulisan Arab tentunya dan di sisi kiri, terjemahannya. Yang berbeda adalah gaya terjemahannya. Terjemahan terbitan Depag dikerjakan oleh para pakar tafsir dan sastra Arab terkemuka di Indonesia. Hasilnya: sebuah terjemahan yang biasa, layaknya terjemahan buku Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia.

HB Jassin tidak mempunyai basis kemampuan bahasa Arab apalagi tafsir.Beliau hanya seorang Paus Sastra Indonesia (menurut Gauis Siagian) atau Wali Penjaga Sastra Indonesia (menurut Prof AA Teeuw).Dalam usaha penulisan buku ini, HB Jassin amat terbantu dengan adanya terjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris, bahasa yang cukup dikuasainya.Diantaranya, terjemahan karya seorang muallaf, Sir Marmaduke Pitchall dan seorang Pakistan Muhammad Jusuf Ali.Terjemahan Jusuf Ali adalah terjemahan al-Qur'an ke Bahasa Inggris terbaik dan paling populer hingga saat ini.

KONTROVERSI
Kontroversi timbul dilatari 3 sebab.Pertama, HB Jassin tidak menguasai bahasa serta sastra Arab dan bukan seorang pakar tafsir.Bahkan terjemahan sekalipun (apalagi buku tafsir) membutuhkan 3 hal diatas. Kedua, apa yang dilakukan HB Jassin mungkin adalah yang pertama di dunia. Bagi sebagian orang itu adalah ide jenius.Sebuah invention. Bagi sebagian lain, itu adalah bid'ah yang tidak punya rujukan atau basis dalil/hujjah/reason dari sumber-sumber hukum Islam. Ketiga, al-Qur'an secara jelas "membela dirinya sendiri" lewat ayat-ayatnya bahwa ia bukan kitab sastra. Meletakkan al-Qur'an sebagai hanya karya sastra semata berarti merendahkan al-Qur'an itu sendiri.Fungsi utama al-Quran adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Para diskusan setuju bahwa karya Jassin ini bermaksud menyampaikan ketinggian sastrawi al-Qur'an kepada bangsa Indonesia yang tidak menguasai sastra Arab.Dari keseluruhan polemik yang kemudian mencuat, semuanya mengerucut pada keberatan utama: Jassin bukan pakar tafsir karena itu ia tidak pantas menulis sebuah terjemahan al-Qur'an sekalipun. Apa yang dilakukan Jassin sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Sayyid Qutb pernah menerbitkan Tafsir Fi Dzilaalil Qur'an.Latar belakang pengetahuan sastra Arab SQ membuat tafsir tersebut cendrung sastrawi. Di abad keemasan Islam, dikenal juga tafsir-tafsir yang indah, semacam Tafsir Ibn Araby, Tafsir al-Ma'ani dst. Juga tafsir yang membahas satu demi satu kosa kata al-Quran.
KESIMPULAN
Agaknya kita harus merespon positif karya HB Jassin ini.Bila segala sesuatu dinilai dari niat, maka karya Jassin ini lahir dari kecintaan pada al-Qur'an, bukan maksud buruk. Dan akhirnya, paska polemik, sejarah memenangkan Jassin: terjemahan itu mengalami cetak ulang terus menerus hingga saat ini. Hmmm, bila suatu saat menikah, saya mungkin menggunakan karya Jassin ini sebagai bagian dari mahar. Apalagi jika ia yang saya persunting tidak bisa memahami keindahan sastrawi al-Qur'an langsung dari bahasa aslinya.

2 komentar:

  1. kakak nulis ini punya referens lengkapnya ga? soalnya saya skripsi ngebahas ini ,, mohon di bantu ya ka hubungi ke no ini 085320991714

    BalasHapus
  2. afwan baru kebuka koment nya, kalo referensi lengkapnya saya ga punya, ini tulisan dari berbagai sumber

    BalasHapus