Rabu, 25 April 2012

HAKIKAT ILMU


HAKIKAT ILMU
1.      JENIS PENGETAHUAN
Pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Sidi Gazalba, mengungkapkan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari : kenal, sadar, insyaf, mengerti, dan pandai. Pengenut pragmatis,  terutama Dewey, tidak membedakan antara pengetahuan dengan kebenaran (antara knowledge dengan truth). Jadi pengetahuan haruslah benar, kalau tidak benar adalah konstradiksi.
Bertititk tolak dari pengetahuan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah pengetahuan, maka di dalam kehidupannya manusia dapat memiliki berbagai pengetahuan dan kebenaran. Menurut hemat penulis ada beberapa pengetahuan yang dimiliki manusia, yaitu:
1)      Pengetahuan biasa atau common sense
2)      Pengetahuan ilmu, secara singkat orang menyebutnya dengan pendek saja yaitu “ilmu” sebagai terjemahan dari “science”.
3)      Pengetahuan filsafat, atau dengan singkat saja disebut filsafat.
4)      Pengetahuan religi (pengetahuan agama, pengetahuan atau kebenaran yang bersumber dari agama).
a.      Pengetahuan Biasa (Common Sense)
Pengetahuan atau dalam filsafat dapat dikatakan dengan istilah “common sense”, dan sering diartikan dengan “good sense”, karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karena memang itu merah, benda itu panas karena memang dirasakan panas, dan sebagainya.
Dengan common sense, semua orang sampai kepada keyakinan secara umum tentang sesuatu, di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Common sense diperoleh dari pengalaman sehari-hari, seperti air dapat dipakai untuk menyiram bunga, makanan dapat memuaskan rasa lapar, musim kemarau akan mengeringkan sawah tadah hujan, dan sebagainya.

Titus, mengemukakan beberapa cirri khusus dari common sense, sebagai berikut:
1)      Common sense cenderung menjadi biasa dan tetap, atau bersifat peniruan, serta pewarisan dari masa lampau.
2)      Common sense sering kabur atau samar dan memiliki arti ganda (ambiguous)
3)      Common sense merupakan suatu kebenaran atau kepercayaan yang tidak teruji, atau tidak pernah diuji kebenarannya.
b.      Pengetahuan ilmu
1.      Pengertian
Kata “ilmu” merupakan terjemahan dari kata ”science”, yang secara etimologis berasal dari kata latin “scire”, yang artinya “to know”. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukan ilmu pengetahuan alam, yang sifatnya kuantitatif dan objektif.
Menurut Titus, ilmu (science) diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi, yang teliti dan kritis.
Ashkey Montagu yang disunting oleh Endang Saefudin Anshari, mengemukakan, ilmu (science) merupakan pengetahuan yang disusun, yang berasal dari pengamatan, studi, dan pengalaman, untuk menentukan hakikat dan prinsip tenteng hal yang sedang dipelajari.
Prof. Harsoyo mengemukakan beberapa pengertian tenteng ilmu, yaitu:
(1)   Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan.
(2)   Ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh pancaindra manusia.
Dari beberapa pengertian “ilmu” yang penulis kemukakan tersebut, dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas, apa yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara objektif (objektif thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperolehnya dengan observasi, eksperimen, klasifikasi, dan analisis ilmu itu objektif dan mengenyampingkan unsure pribadi, pemikiran logika diutamakan, netral, dalam arti tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian, karena dimulai dengan fakta, ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif.
2.      Sifat-sifat Ilmu
Sejarah membuktikan, bahwa dengan metode ilmu, akan membawa manusia kepada kemajuan dalam pengetahuannya. Kemajuan dalam pengetahuan yang dihasilkan oleh ilmu itu memungkinkan karena beberapa sifat, atau cirri khas yang dimiliki oleh ilmu. Dalam hal ini, Randal (1942) mengemukakan beberapa cirri umum dari ilmu, di antaranya ialah :
a.       Hasil ilmu sifatnya akumulatif dan merupakan milik bersama. Artinya, hasil dari ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru, dan tidak menjadi monopoli bagi yang menemukannya saja, setiap orang dapat menggunakan, memanfaatkan hasil penyelidikan atau hasil penemuan orang lain.
b.      Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak, dan bisa terjadi kekeliruan, karena yang menyelidikinya adalah manusia. Namun yangprlu diketahui, kesalahan-kesalahan itu bukan karena metodenya, melainkan terletak pada manusia yang menggunakan metode tersebut.
c.       Ilmu itu objektif. Artinya prosedur cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi. Berbeda dengan prosedur utoritas dan intuisi, yang tergantung kepada pemahaman pribadi.
Selanjutnya Ralph Rose dan Ernest Van den Haag, yang disunting leh Haryoso, mengemukakan cirri-ciri umum ilmu, yaitu :
(a)    Bahwa ilmu itu rasional;
(b)   Bahwa ilmu itu bersifat empiris;
(c)    Bahwa ilmu itu bersifat umum;
(d)   Bahwa ilmu itu bersifat akumulatif.
Ilmu dikatakan rasional, karena ilmu merupakan hasil dari proses berfikir dengan menggunakan akal, atau hasil berpikir secara rasional.
ESENSI PENGKAJIAN ILMU (ONTOLOGI ILMU)
1.      Pengetahuan Filsafat
A.    Bidang Kajian Filsafat
Para filosof berusaha memecahkan masalah-masalah yang penting bagi manusia, baik secara langsung atau tidak langsung. Melalui pengujian yang kritis, filosof mencoba untuk mengevaluasi informasi-informasi dan kepercayaan-kepercayaan yang kita miliki tentang alam semesta serta kesibukan dunia manusia. Filosof mencoba membuat generalisasi, sistematika, dan gambaran-gambaran yang konsisten tentang semua hal yang kita ketahui dan kita pikirkan.
Dari latar belakang kehidupan filosof, kita dapat melihat bahwa mereka berasal dari beraneka ragam profesi, atau latar belakang sosial yang berbeda. Di antara filosof ada yang memimpin agama seperti St. Augustine, Berkeley, yang mencoba untuk memberikan penjelasan filsafatnya dari sudut pandang agama. Beberapa filosof ada yang sebagai ilmuwan, seperti Rene Descartes, yang mencoba mentafsirkan arti pentingnya berbagai teori dan penemuan ilmiah. Kemudian John locke, Thomas Hobbes, Karl Marx dan yang lainnya, di mana mereka berfilsafat dengan maksud untuk mempengaruhi perubahan tertentu di dalam organisasi politik masyarakat.
Tanpa melihat tujuan, pekerjaan, dan latar belakang sosialnya, para filosof telah menyumbangkan suatu keyakinan mengenai pentingnya pengujian dan analisis yang kritis terhadap pandangan-pandangan manusia, baik yang bersumber dari pengalaman sehari-hari, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah, maupun yang bersumber dari kepercayaan agama. Para filosof ingin menelusuri lebih mendalam, apakah dapat dibuktikan kebenaran-kebenaran dari pandangan-pandangan dan kepercayaan-kepercayaan manusia itu. Filosof ingin menemukan, apa ide dasar atau konsep yang kita miliki, apa dasar pengetahuan kita, dan standar (ukuran) apa yang dipakai untuk membuat pertimbangan yang baik. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaaan semacam ini, filosof merasa bahwa ia dapat mencapai pemahaman yang lebih bermakna tentang alam semesta, dunia, dan manusia.
Titus mengemukakan ada tiga tugas utama dari filsafat ialah:
1)      Mendapatkan pandangan yang menyeluruh.
2)      Menemukan makna dan nilai-nilai dari segala sesuatu.
3)      Menganalisis dan mengadakan kritik terhadap konsep-konsep.
Filsafat tertarik terhadap aspek kualitatif daripada benda-benda atau segala sesuatu, terutama dalam makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolak mengabaikan setiap aspek yang otentik dari pengalaman manusia. Hidup mendorong kita untuk membuat pilihan dan bertindak berdasarkan skala nilai-nilai. Filsafat berusaha memformulasikan makna dan nilai-nilai dalam cara yang paling dapat diterima oleh akal. Filsafat mencoba dan menentukan kebenaran dengan pengujian secara kritis asumsi-asumsi serta konsep-konsep ilmu, semua lapangan ilmu.
B.     Apa yang Dibahas Filsafat
Filsafat adalah berfikir secara radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu. Jadi yang menjadi objek pemikiran filsafat ialah segala sesuatu yang ada. Semua yang ada menjadi bahan pemikiran filsafat. Namun karena filsafat merupakan usaha berfikir manusia secara sistematis, maka disini perlu mensistematisasi segala sesuatu yang ada itu. Kita perlu mengklasifikasikan yang ada.
Immanuel Kant mengajukan empat pokok pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafat, yaitu :
1)      Was darf ich hoffen     : Apakah yang boleh saya harapkan
2)      Was kann ich wissen   : Apakah yang dapat saya ketahui
3)      Was sol lich tun           : Apa yang harus saya perbuat
4)      Was is der mench        : Apakah manusia itu.
Menurut Kant, pertanyaai pertama dapat dijawab oleh metafisika; pertanyaan kedua dijawab oleh epistemology; pertanyaan ketiga akan dijawab oleh etika; dan pertanyaan keempat dapat dijawab oleh antropologi (antropologi filsafat).
Butler mengemukakan beberapa pokok masalah yang dibahas dalam filsafat, dalam hal ini ia menyusun sistematika pembahasan filsafat, yaitu :
1.      Metafisika       :
a.       Theologi
b.      Kosmologi
c.       Antropologi
2.      Epistemology :
a.       Hakikat pengetahuan
b.      Sumber pengetahuan
c.       Metode pengetahuan
3.      Aksiologi         :
a.       Etika
b.      Estetika
Sidi Gazalba mengemukakan bidang permasalahan filsafat sebagai berikut :
1)      Teori prngrtahuan : Apa itu pengetahuan, dari mana asalnya atau sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membentuk pengetahuan yang tepet dan benar, apa yang dikatakan pengetahuan yang benar, mungkinkah manusia mencapai pengetahuan yang benar, dan apa yang dapat diketahui manusia, dan sampai mana batasannya.
2)      Metafisika dengan pokok-pokok masalah : Filsafat hakikat atau ontology, filsafat alam atau kosmologi, filsafat manusia, dan filsafat ketuhanan atau thedycee.
3)      Filsafat Nilai yang membicarakan : Hakikat nilai, di mana letak nilai (apakah pada bendanya atau pada perbuatannya atau pada orang yang menilainya), kenapa terjadi perbedan nilai antara seseorang dengan orang lain, siapakah yang menentukan nilai, mengapa perbedaan ruang dan waktu membawa perbedaanpenilaian. Filsafat ini disebut Aksiologi.
Dalam uraian selanjutnya penulis akan mencoba membahas sekilas masalah-masalah filsafat, yang mencakup :
1)      Metafisika
2)      Epistemology, dan
3)      Aksiologi
2.      Metafisika
A.    Pengertian
Secara etimologis metafisika berasal dari kata “meta” dan ”fisika” (Yunani). “meta” berarti sesudah, di belakang atau melampaui, dan “fisika”, berarti alam nyata. Kata fisik (physic) di sini sama dengan “nature”, yaitu alam. Metafisika merupakan cabang dari filsafat yang mempersoalkan tentang hakikat, yang tersimpul di belakang dunia fenomenal. Metafisika melampaui pengalaman, objeknya di luar hal yang dapat di tangkap pancaindra.
Metafisika mempelajari manusia, namun yang menjadi objek pemikirannya bukanlah manusia dengan segala aspeknya, termasuk pengalamannya yang dapat ditangkap oleh indra. Sosiologi mempelajari manusia dalam bentuk kelompok sertya interaksinya yang dapat ditangkap indra serta yang berada dalam pengalaman manusia; begitu juga psikologi, biologi, dan sebagainya.
Namun metafisika mempelajari manusia melampaui atau di luar fisik manusia dan gejala-gejala yang dialami manusia. Metafisika mempelajari siapa manusia, apa tujuannya, dari mana asal manusia, dan untuk apa hidup di dunia ini. Jadi metafisika mempelajari manusia jauh melampaui ruang dan waktu. Begitu juga pembahasan tentanf kosmos maupun Tuhan, yang dipelajari adalah hakikatnya, diluar dunia fenomenal (dunia gejala).
B.     Jenis Metafisika
Metafisika dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu : 1) ontology, dan 2) metafisika khusus. Ontology mempersoalkan tentang esensi dari yang ada, hakikat adanya dari segala sesuatu wujud yang ada. Sedang metafisika khusus, mempersoalkan theology, kosmologi, dan antroologi.
Theology mempersoalkan pertanyaan sekitar Tuhan, dan hubungan Tuhan dengan dunia realitas. Kosmologi mempersoalkanasal dan struktur dari alam semesta. Sedangkan mempersoalkan siapakah sebenarnya manusia, bagaimana hubungannya satu sama lainnya, bagaimana kedudukannya di dalam kosmos ini, dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan.
1.      Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni Ontos dan Logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu, jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Menyoal ontologi sebagai cabang filasafat yyang membicarakan tentang hakikat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ”apa sebenarnya realitas benda itu? Apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Apakah kedudukan ilmu dalam ruang yang ada ini? Benarmkah ilmu itu ada?”
Ontotologi adalah salah satu di antara tiga lapangan penyelidikan kefilsafatan. Cabang ini serinng disebuut sebagai cabang yang paling tua dan sekaligusa palinng utama. Thales adalah ojrang Yunani poertama yang memikirkan persoalan ontologi. Ia adalah seorang filosof bijaksana yang pertama kali merenung,kan asal mula penciptaan al;am. Atas perenungannya terhadap air yang terdapat di mana-mana, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa air merupakan subjjtansi terdalam yang menjadi asal ,mula dari segala sesuatu. Hal terpenting dari pemikiran Thales ini, sebenarnya bukan pada pendapatnya tentang air yang menjadi asal mula terjadinya segala sesuatu, melainkan pada pendiriannya yang menyatakan bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari satu substansi yang sama, yang kemudian disebutnya bersumber dari air.
Bagi semua orang, segala sesuatu dipandang apa adanya secara wajar. Apabila mereka menjumpai kayu, daging, besi, air dan sebagainya, mereka memandangnya sebagai substansi yang berdiri sendiri. Bagi kebanyakan orang pada waktu itu, tidak ada pemilahan antara yang tampak (appearance) dengan yang nyata (reality). Namun, Thales tidak demikian. Ia justru melihat sesuatu itu pada awal kejadian atau awal penciptaannya. Ia tidak melihat realitas benda sebagaimana yang terlihat dalam kasat mata. Perkembangan selanjutnya, para filosof kemudian mengembangkan pemikirannya, khususnya pada sesuatu benda yang ada dibalik sesuatau yang nyata. Dengan demikian Ontologi menjadi ilmu pengetahuan yang paling universal, yakni membicarakan tentang hakikat sesuatu, baik tentang asal mula penciptaan alam sebagaimana tergambar dalam perspektif pemikiran Thales, dan sesuatau yang ada di balik performa yang terwujud sebagaimana yang tergambar dalam pemikiran Plato.
Ontologi secara sederhana dapat diartikan sebagai sesuatu tentang yang berada. Ia adalah pondasi metafisika, meskipun Ontologi tidak secara otomatis disebut metafisika. Ontologi mengajukan pertanyaan tentang yang berada, yakni sesuatau yang muncul pada setiap orang dan pada setiap saat. Ontologi itu deskriptif, bukan spekulatif. Ontologi berusaha mencari tahu struktur dasar yang dimiliki oleh yang berada. Dari teori hakikat Ontologi ini kemudian munculah beberapa aliran dalam filsafat, antara lain: (i) filsafat idealisme; (ii) filsafat materialisme; (iii) filsafat naturalisme.
a.       Idealisme
Idealisme adalah suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukan agar manusia dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Aliran ini menyatakan bahwa yang sesungguhnya ada dalam dunia, adalah idea. Segala sesuatu yang tampak dalam wujud nyata indrawi hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya berada dari dunia idea. Realitas yang sesungguhnya bukan pada sesuatu yang kelihatan, melainkan pada sesuatu yang tidak kelihatan. Ada suatu transisi metafisik, berasal dari India Kuno yang memandang bahwa dunia fisik adalah sesuatu ilusi. Pengalaman adalah ilusi. Bahkan keanekaragaman itu adalah rupa belaka. Kelakuan dan jiwa pribadi dianggap tidak mempunyai kepatutan pribadi.
Tokoh cukup penting dalam aliran ini, menurut Lorens Bagus adalah George Barkeley (1685-1753). Menurut George Barkeley, tidak ada substansi material dalam dunia ini. Segala substansi terletak bukan pada aspek fisik melainkan pada substansi idea. Penyebutan kursi atau meja misalnya, ia hanya merupakan koleksi idea yang ada dalam alam pikiran sejauh yang dapat diserap. Pendapatnya ini kemudian dikembangkan oleh Fichte (1762-1831) yang menyatakan bahwa: “yang mengadakan ialah “aku”. Aku sendiri menghasilkan sesuatu yang bukan “Aku”. Dalam lawanan dialektis dengan bukan “Aku” itu, “Aku” menjelmakan dirinya sendiri.
b.      Materialisme
Aliran ini menolak hal-hal yang tidak kelihatan. Menurut aliran ini, yang sesungguhnya ada adalah keberadaannya yang bersifat material atau tergantung sama sekali terhadap materi. Leukippos dan Demokritos (460-370 SM) dapat disebut sebagai cermin filosof awal yang membangun teori ini. Leukippos dan Demokritos berpendapat bahwa: “realitas yang sesungguhnya bukan Cuma satu, melainkan terdiri dari banyak unsur. Unsur-unsur itu sendiri tidak terbagi yang kemudian disebutnya sebagai “atom”. Thomas Hubbes (1588-1679) dapat disebut sebagai pelanjut pemikiran leukippos dan Demokritos. Tokoh abad skolastik ini berpendapat bahwa: “seluruh realitas adalah materi yang tidak bergantung pada gagasan dan pikiran manusia”. Seluruh realitas yang tidak terwujud dalam bentuk materi berada di dalam gerak. Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) berpendapat bahwa ”alam material adalah realitas yang sesungguhnya”. Konsep materialisme inilah, sesungguhnya yang paling dikhawatirkan oleh kaum agamawan. Sebab berkembangnya aliran ini akan membawa konsekwensi pada pengingkaran wujud yang tidak terjangkau oleh alat indera yang sangat terbatas itu, karena ia berwujud di alam yang tidak terwujud dalam perspektif inderawi.
c.       Naturalisme
Naturalisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa apa yang dinamakan kenyataan adalah segala sesuatu yang bersifat kealaman. William R. Dennes termasuk tokoh penting dalam aliran ini. Ia berpagangan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah “kejadian”. Kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan-satuan yang menyusun kenyataan yang ada. Hanya satuan-satuan semacam itulah yang menjadi satu-satunya penyusun dasar bagi segenap hal yang ada. Dalam pandangan kaum naturalistik, terdapat tiga persoalan yang selalu hidup dalam wacana pemikiran kefilsafatan, ketiga persoalan itu adalah: proses, kualitas dan relasi.
2.      Metafisika Khusus
Metafisika khusus adalah cabang filsafat yang paling kuno yang ada dalam objek kefilsafatan. Cabang ini membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia. Persoalan eksistensi ketiga persoalan inilah yang telah menjadi dialektika menarik di awal kelahiran filsafat awal di Yunani kuno yang berhasil melogoskan mitos.
a.       Kosmologi
Kosmologi berasal dari bahasa Yunani, cosmos yang berarti dunia atau ketertiban. Kata ini merupakan lawan dari kata chaos (kacau balau dan tidak tertib). Sedangkan logy (logos) berarti percakapan atau ilmu. Dengan demikian, kosmologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang alam fisik atau jagat raya. Aliran filsafat ini menjadikan jagat raya sebagai objek penyelidikan ilmu-ilmu alam, khususnya ilmu fisika.
Kosmologi membagi alam pada dua jenis penyelidikan. Pertama, alam, fisikdijadikan sebagai objek penyelidikan kefilsafatan. Istilah-istilah pokok yang terdapat dalam fisika, misalnya ruang dan waktu; Kedua, pra-anggapan yang terdapat dalam fisika sebagai ilmu tentang jagat raya. Pembahasan ini entu saja melihat alam dalam perspektif yang pertama. Sebab alam dalam perspektif yang kedua, masuk kedalam wilayah kajian fisika sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan telah tercabut dari filsafat sebagai induknya ilmu pengetahuan.
Kosmologi sebagai aliran metafisika, dengan demikian dapat dipandang sebagai suatu aliaran yang memandang bahwa alam adalah suatu totalitas dari fenomena dan berupaya memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah dalam suatu kerangka yang koheren. Persoalan yang sering dibahas dalam aliaran ini adalah mengenai ruang, waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian. Metode yang digunakannya bersifat rasional. Secara sederhana, kosmologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang hakekat atau asal usul alam semesta. Berhubungan dengan konsep seperti itu, maka kosmologi merupakan tempat persemaian bagi apa saja yang ada, karena ruang dan waktu merupakan keadaan yang nyata dan paling dalam.
b.      Teologi Metafisik
Aliran ini mempersoalkan tentang eksistensi Tuhan yang bebas dari ikatan agama. Eksistensi atau perwujudan Tuhan dibahas secara rasionsl dalam perspektif kefilsafatan. Konsekwensi atas dibahasnya Tuhan, maka Ia telah menjadi objek sistem filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan melalui metode ilmiah. Tuhan dilepaskan dari doktrin-doktrin agama.
Bagi penganut aliran metafisik-teologis, Tuhan ada dan Ia dapat dibuktikan secara rasional. Seluruh makhluk di muka bumi ini merupakan cerminan dari cahaya Tuhan yang maha kudus dan maha kuasa atas segala yang ada. Pendapat ini dalam perkembangan selanjutnya mengkristal dalam aliran filsafat yang disebut dengan monism.
Jika sistem kefilsafatan monisme yang dimaksud, maka sejatinya aliran ini telah ada sejak jaman Yunani Kuno. Aliran ini telah ada dan bahkan termasuk persoalan filsafat yang kokoh  dipertahankan masyarakat. Meski rintangan terhadapnya demikian besar dan terkesan bertolak belakang dengan aliran filsafat formal yang ada. Sejak jaman Parmenides (515-450SM) aliran ini telah ada. Ia menyatakan bahwa: “yang mengada itu mengada; mustahil sekaligus tidak mengada. Andaikan ada kejamakan, itu terjadi lebih disebabkan karena terdapat perbedaan satu sama lain. Jadi, menurut Parmanides, mustahil ada perbedaan dan kejamakan. Adanya kenyataan yang seolah seperti itu hanya khayalan dan semu. Yang mengada hanya satu dan tidak terbagi; bersifat sempurna dan komplet bagaikan bola bulat.
c.       Filsafat Antropologi
Filsafat Antropologi adalah cabang dari metafisika khusus yang membicarakan tentang manusia. Apakah hakekat manusia? Bagaimana hubungan antara manusia dan alam? Bagaimana hubungan manusia dan manusia? Filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut apa adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi maupun status relasinya.
“kamu tidak dapat mengubah watak amanusia”. Pernyataan ini sering ditolak oleh kaum reformer sebagai satu ucapan putus asa dan suatu alasan yang sangat mudah untuk bersikap masa bodoh terhadap kekalutan dunia. Meski demikian, kata-kata itu memiliki aspek positif. Mengatakan bahwa watak manusia tidak dapat diubah berarti bahwa watak manusia itu merupakan suatu kenyataan dan begitu pula bahwa watak tersebut itu sangat berharga.
Plato membagi manusia menjadi dua bagian. Pertama bagian tubuh dan kedua bagian jiwa. Tubuh menurut Plato adalah musuh jiwa. Berbagai kejahatan dilakukan oleh tubuh manusia. Jiwa yang terdapat dalam tubuh yang demikian seperti penjara, jiwa sendiri menurut Plato dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: nous (akal), thumos (semangat) dan epithumia (nafsu). Karena terpengaruh oleh nafsu, maka jiwa manusia terpenjara dalam tubuh.


KESIMPULAN
Metafisika berasal dari bahasa Yunani, meta dan physika. Meta berarti sesudah atau dibalik, sedangkan physika berarti nyata. Jadi metafisika adalah sesudah fisika atau sesuatu dibalik yang nyata. Metafisika dibagi kedalam dua bagian yakni metafisika umum (Ontologi) dan metafisika khusus. Ontologi  adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat wujud yang ada. Ontologi bergerak di antara dua kutub, yaitu antara pengalaman akan kenyataan konkrit dan pengertian “pengada” yang paling umum. Dalam pengertian ini kedua kutub saling menjelaskan. Ontologi sering juga disebut sebagai metafisika umum, dalam pembahasannya ontologi melahirkan berbagai alairan filsafat diantaranya:
1.Idealisme: adalah suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukan agar manusia dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Aliran ini menyatakan bahwa yang sesungguhnya ada dalam dunia adalah idea.
2.Materialisme: aliran ini menolak hal-hal yang tidak kelihatan, menurut aliran ini hakikat sesuatu adalah materi atau hakikat benda adalah materi benda itu sendiri.
3.Naturalisme: adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa apoa yang dinamakan kenyataan adalah segala sesuatu yang bersifat kealaman.
Bagian kedua dalam metafisika adalah metafisika khusus. Ini adalah cabang filsafat yang paling kuno yang terdapat dalam objek kefilsafatan. Cabang ini membicarakan tentang alam, Tuhan dan manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar