Jumat, 26 Oktober 2012

Al Qur’an dan Terjemahnya oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemahan al Qur’an Departemen Agama RI


Al Qur’an dan Terjemahnya oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemahan al Qur’an Departemen Agama RI

I.               Biografi Penulis
Tafsir  ini merupakan salah satu proyek Departemen Agama RI dalam rangka penerjemahan al Qur’an yang ditunjuk oleh Menteri Agama dengan dengan Surat Keputusan no. 26 th. 1967 untuk menyelenggarakan dan menerbitkan serta menyiarkan Kitab Al-Quran dan Terjemahnya.
            Adapun para tokoh yang telah berjasa dalam penyusunan kitab ini adalah :
1.      Prof. T. M Hasbi Asd-Shiddiqi,
2.      Prof. H. Bustami A. Gani,
3.      Prof. H. Muchtar Jahya,
4.      Prof. H. M Toha Jahya Omar,
5.      Dr. H. A Mukti Ali, Drs. Kamal Muchtar,
6.      H. Ghazali Thalib, K. H. A Musaddad,
7.      K. H Ali Maksum,
8.      Drs. Busjairi Madjidi

II.            Mengenal Tafsir Al Qur’an dan Terjemahnya

a.      Penulisan dan Penerbitan
Penulisan tafsir Al-Quran dan terjemah Depag ini  dilatarbelakangi oleh sebagian umat Islam yang belum dapat memahami kandungan Al-Qur’an dari bahasa aslinya (Arab). Untuk itulah Al-Quran dan terjemahnya diperlukan dan penerbitannya dilakukan oleh Pemerintah (Departemen Agama RI). Minat masyarakat terhadap pemahaman Al-Quran terus meningkat sebagai salah satu keberhasilan pembangunan bidang Agama. Tafsir ini disusun selama rentang waktu 8 tahun dengan penuh kerja keras.

b.      Motivasi dan Tujuan

Tujuan  dari penulisan tafsir ini adalah Untuk memudahkan umat Islam Indonesia dalam  memahami  isi  dan  kandungan  Alquran  dan  untuk  memperjelas  makna  kata-kata dan pemahaman teks Alquran yang juga menggunakan bahasa Arab agr lebih dipahami dan dimengerti.

III.        Metodologi Tafsir

a.      Sumber Tafsir

Kitab tafsir ini menggunakan gabungan antara tafsîr bi ar-ra’yi, serta menggunakan gaya bahasa dan ungkapan yang jelas yang mudah dipahami bagi generasi sekarang ini. Oleh sebab itu, kitab ini  membagi ayat-ayat berdasarkan topik untuk memelihara bahasan dan penjelasan di dalamnya.

Referensi yang digunakan dalam tafsir ini adalah
·         Ruh al Ma’ani fi Tafsir al-quran al-‘Azhim karya Syihabuddin as-Sayyid al- Alusi
·         Tafsir al-Khazin karya Ali ibnu Muhammad ibn Ismail al-Baghdadi
·         Tafsir al-Kabir karya al-FAkhrur Razi
·         Tafsir al-Wadhih karya Muhammad Mahmud al-Hijjazi
·         Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi
·         Tafsir al-Quranul Madjid “An-Nur” karya Prof. T. M Hasbi Asd-Shiddiqi
·         Rawa’I al-Bayan Tafsir ayat al-ahkam karya Muhammad Ali Ash-Shabuni
·         Tafsir al-Jalalain karya Jalaluddin Abdurrahman as-Sayuti
·         Tafsir al-Quranul ‘Azhim karya Ibnu Katsir
·         Majma’ al-Bayan fi Tafsir al-Quran karya Abu Ali Fadhi ibn al-Hasan Ath-Thabarisi
·         Tafsir al-Kasysyaf karya Mahmud ibn Umar Az-Zamarkhsyari
·         Ahkam al-Qur’an karya al-Jashshas
·         Al-Jami’ fi Ahkam al-Qur’an karya Al-Qurtubi
·         Mahasin at-Ta’wil karya al-Qasimi
·         Ahkam al-Qur’an karya Ibn al-‘Arabi
·         Tafsir Al-Bahr al-Muhith karya Imam Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf

  • Al-Itqan  karya  Imam  suyuti
  • Mabahist fi ‘Ulum al-qur’an  karya  Shubhi  Shalih
  •  I’jaz al-Qur’an  karya Assayyid  Muhammad al-Hakim
  • Manahil  al-irfan fi Ulum al-quran karya Muhammad Abdul ‘Azhim az-Zarqani
  • Sunan at-Turmudzi karya Ibnu Saurah
  • As-Sirah an-nabawiyah karya ibnu Hisyam
  1. Metode
Terkait metode dan sistematika dalam penulisan tafsir ini dibuat hanya satu jilid dengan tujuan untuk memudahkan para pembaca mengambil petunjuk dan hidayah dari al-Qur’an. Uraiannya padat dan singkat, di dalamnya tidak terdapat unsur-unsur khilafiah dan tidak pula mencampuradukanya dengan cerita-cerita israiliyat. Terjemahan dan tafsirnya disusun selaras dengan halaman al-Qur’an. Penulisan tasir ini telah diusahakan sejauh mngkin agar padat, ringkas, baik bahasanya dan tepat isinya.“Tafsir ini disusun dengan perbaikan-perbaikan baru dalam terjemah, sehingga terjemah itu mudah dimengerti oleh pembaca. Sebaliknya isi al-Qur’an harus tetap dijaga jangan sampai salah. Jadi yang kita perlukan bahasa baik isi benar”.
Kitab ini secara metodologi penafsiran, tergolong kedalam metode tahlili yaitu menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan mushaf atau susunan al-Qur’an. Sistematika penulisannya sesuai dengan tertib mushafi. Diawal surat tertera muqadimah mengenai kandungan surat, baik kajian pokok, isi, jumlah surat, diturunkannya surat dan sebagainyadan pada akhir ayat terdapat penutup berupa kesmpulan dalam ayat tersebut.
  1. Bentuk Penyajian
Sistematika penulisan tafir ini adalah pada awal surat terdapat muqadimah yang berisi tentang tema keimanan, Hukum-hukum dan kisah-kisah dan pada penutupnya terdapat kesimpulan tentang surat tersebut. Kemudian terdapat penjelasan-penjelasan tentang kata-kata yang memerlukan penjelasan lebih. Terdapat pula hubungan antara ayat sebelumnya dan sesudahnya.


IV.             Contoh Tafsir

SURAT AL-KAUTSAR (NIKMAT YANG BANYAK)

MUQADIMAH

            Surat Al-Kautsar terdiri dari 3 ayat termasuk golongan surat-suart makkiyah diturunkan sesudah surat al-‘Adiyat. Dinamai al-kautsar diambil dari perkataan “ al-Kautasr” yang terdapat pada ayat pertama.
           
            Surat ini sebagai penghibur hati Nabi Muhammad

Pokok-pokok isinya adalah Allah melimpahkan nikmat yang banyak karena itu bersembahyang dan berkurbanlah, Nabi Muhammad saw akan mempunyai pengikut yang banyak sampai hari kiamat dan akan mempunyai nama yang baik di dunia dan di akhirat tidak sebagai yang dituduhkan pembenci-pembencinya.

     !$¯RÎ) š»oYøsÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ žcÎ) št¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ
1.  Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2.  Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah[1605].
3.  Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus[1606].

[1605]  yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah.
[1606]  maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah.

PENUTUP

Surat ini menganjurkan agar orang selalu beribadah kepada Allah dan berkurban sebagai tanda bersyukur atas nikmat yang telah dlimpahkan-Nya.

HUBUNGAN SURAT AL-KAUTSAR DENGAN SURAT AL-KAAFIRUUN

Dalam surat Al-Kautsar Allah memerintahkan agar memperhambakan diri kepada Allah sedang dalam surat Al-Kaafiruun perintah tersebut ditandaskan lagi.

V.      Relasi Tafsir dengan konteks sosiokultur
Keseluruhan kitab tafsir yang dibuat pada masa sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin (pengikut tabiin) ditulis dalam bahasa Arab. Kitab tafsir seperti ini hanya mampu dibaca oleh orang yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahasa Arab yang cukup. Padahal, tujuan tafsir adalah untuk memperjelas makna kata-kata dan pemahaman teks Alquran yang juga menggunakan bahasa Arab.
Untuk memudahkan umat Islam Indonesia dalam memahami isi dan kandungan Alquran, usaha penerjemahan dan penafsiran Alquran dengan bahasa Indonesia juga dilakukan, baik oleh perorangan maupun kelompok. Penerjemahan dan penafsiran Alquran oleh ulama di Tanah Air tidak hanya dilakukan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa daerah dan bahasa Melayu.
Telah kita ketahui bersama bahwasanya penulisan kitab terjemahan dan tafsir Alquran dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Melayu sebenarnya sudah dimulai pada abad ke-17 M. Yang mana pada masa itu yang mempelopori hal itu salah satunya adalah Syekh Abdur Rauf Singkel–seorang ulama asal Singkel, Aceh–menyusun sebuah kitab tafsir pertama berbahasa Melayu yang diberi judul Turjuman al-Mustafid. Yang mana upaya penerjemahan dan penafsiran Alquran dalam bahasa Melayu diteruskan pada periode selanjutnya oleh Muhammad bin Umar yang terkenal dengan nama Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Kitab Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil al-Musfir ‘an Wujuh Mahasin at-Ta’wil yang disusun Syekh Nawawi ini diterbitkan di Makkah pada permulaan tahun 1880-an. Hingga kini, sudah beberapa kali dicetak ulang dan banyak beredar di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, pada abad ke-19 M hingga memasuki abad ke-20 M, mulai bermunculan berbagai macam kitab terjemahan dan tafsir Alquran karya para ulama di dalam negeri. Di antaranya, Al-Quran Karim dan Terjemahan Maknanya karya Prof H Mahmud Yunus yang dirilis pada 1967. Tafsir ini hanya terdiri atas satu jilid, namun penafsirannya mencakup 30 juz.
Selain kitab tafsir yang disusun secara perorangan, Muslim di Tanah Air juga mengenal karya tafsir yang dibuat secara kelompok atau oleh lembaga. Di antaranya Alquran dan Terjemahannya yang disusun oleh Yayasan Penyelenggara Penerjemah Alquran atas penunjukan oleh Departemen Agama RI. Al-quran dan Terjemahannya terbit pertama kali tahun 1971 dan sejak tahun 1990 terjemahannya telah mengalami revisi.
VI.        Gagasan revolusioner
Terbitnya al-Qur'an dan Tafsirnya buah karya Tim yang dibentuk Departemen Agama, bagi bangsa Indonesia merupakan suatu usaha yang cukup berharga dalam rangka memperkaya khazanah kepustakaan Islam Indonesia terutama bagi mereka yang tidak memahami bahasa Arab. 

Sejumlah target telah terpenuhi dengan karya tersebut. Pertama, pembuatan tafsir tersebut menjadi bagian dari rencana pembangunan lima tahunan dari pemerintah orde baru dan telah dianggap oleh masyarakat Islam Indonesia sebagai bukti bahwa negara telah terlibat dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam. Kedua, cendekiawan muslim khususnya dari kalangan IAIN telah dilibatkan dalam menerjemahkan, menafsirkan dan memberikan komentar-komentarnya. Hal ini memperlihatkan kedewasaan dan kemampuan mereka sebagai sarjana-sarjana ahli tafsir. Ketiga, Departemen Agama telah menetapkan standar-standar dalam pembuatan tafsir dan terjemahnya. Keempat, satu kelompok bangsa Idonesia dari dan luar pemerinah yang disebut dengan muslim nasionalis telah menginginkan agar pandangan idiologi mereka akan bisa dijelaskan lewat pembuatan tafsir tersebut[1].

Penerbitan al-Quran dan Tafsirnya merupakan satu dari enam rangkaian kegiatan penerbitan al-Qur'an oleh Departemen Agama Republik Indonesia yang meliputi antara lain mushaf al-Qur'an Standar dan terjemahnya dalam bahasa Jawa dan Mushaf al-Qur'an Huruf Braile. Tim ini disebut Dewan Penyelenggara Pentafsir al-Qur`an. Tim ini bertugas menulis tafsir yang di kemudian hari disempurnakan oleh Tim Penyempurnaan Al-Qur`an dan Tafsirnya.
Setelah menerbitkan Terjemah Al-Qur’an pada tahun 1965, Departemen Agama menyusun Tafsir Al-Qur`an yang ide penulisannya dilandasi oleh komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang kitab suci, dan untuk membantu umat Islam dalam memahami kandungan Kitab Suci Al-Quran secara lebih mendalam. Kehadiran tafsir Al-Qur’an tersebut sangat membantu masyarakat untuk memahami pengertian dan makna ayat-ayat Al-Qur’an, walaupun disadari bahwa tafsir Al-Qur’an sebagaimana terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia tidak akan dapat sepenuhnya menggambarkan maksud ayat-ayat Al-Qur’an.

Sebagai kelanjutan dari terbitnya Al-Qur’an dan Terjemahnya, pada tahun 1972 dibentuklah Dewan Penyelenggara Pentafsir al-Qur’an yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H. guna menyusun tafsir Alquran. Pembentukan Tim ini didasarkan pada Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 90 Tahun 1972. Setahun kemudian, KMA itu direvisi dengan KMA No. 8 Tahun 1973 yang salah satu isinya menetapkan Prof. H. Bustami A. Gani sebagai ketua Tim[2].

Penyempurnaan tim dilakukan lagi melalui KMA RI No. 30 Tahun 1980 dengan ketua Tim yang baru yaitu Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML[3]. Sebagai respon atas banyaknya tanggapan dan saran  dari masyarakat terkait penyempurnaan al-Qur’an dan Tafsirnya, baik isi, format, maupun bahasa, Departemen Agama menerbitkan KMA RI No. 280 Tahun 2003 yang isinya memberikan mandat Pembentukan Tim Penyempurnaan alQur’an dan Tafsirnya Depag RI[4].

Penyempurnaan tafsir al-Qur'an secara menyeluruh dirasakan perlu, sesuai perkembangan bahasa, dinamika masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang tentu berbeda dengan 30 tahun yang lalu saat tafsir ini diterbitkan pertama kali[5].

Pada awal kehadirannya, Tafsir Departemen Agama  tidak dicetak utuh dalam 30 juz, melainkan bertahap[6]. Selanjutnya, Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur`an melakukan perbaikan dan penyempurnaan materi dan teknis penulisannya secara gradual. Perbaikan Tafsir yang relatif agak luas mulai dilakukan pada tahun 1990. Perbaikan ini lebih banyak dilakukan pada sisi aspek kebahasaan dengan pertimbangan perkembangan bahasa, dinamika masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Berikut adalah aspek-aspek perbaikan dan penyempurnaan yang ada dalam Tafsir edisi 2009. :
1.      Bahasa, sesuai perkembangan bahasa Indonesia kontemporer
2.      Substansi, yang terkait makna dan kandungan ayat
3.      Munâsabah dan asbâb nuzûl
4.      Transliterasi yang mengacu pada Pedoman Transliterasi Arab-Latin berdasarkan SKB Dua Menteri tahun 1978.
5.      Teks ayat Alquran dengan menggunakan rasm Utsmânî yang diambil dari Mushaf Al-Qur’an Standar yang ditulis ulang.
6.      Terjemah ayat dengan mengacu kepada Al-Qur’an dan Terjemahnya Departemen Agama yang disempurnakan (edisi 2002).
7.      Dengan melengkapi kosa kata yang fungsinya menjelaskan makna lafal tertentu yang terdapat dalam kelompok ayat yang ditafsirkan
8.      Dengan mencantumkan indeks pada bagian akhir setiap jilid.
9.      Dengan membedakan karakteristik penulisan teks Arab antara kelompok ayat yang ditafsirkan, dengan ayat-ayat pendukung dan penulisan teks hadis[7].

Yang menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah  Al-Qur'an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan) yang dicetak oleh Lembaga Percetakan al-Qur'an Departemen Agama, Cetakan Ketiga, Mei 2009. 




[1]. Howard Federspiel, Kajian al-Qur’an di Indonesia dari Mahmud Yunus hingga Quraish Shihab, (terj) Tajul Arifin, (Bandung: Mizan, 1996), h.
[2]. Tim Pertama ini beranggotakan Prof. H. Bustami Abdul Ghani (Ketua Tim), Prof. Dr. T.M. Hasbi ash-Shiddiqi, Drs. Kamal Muhtar, Ghazali Thaib, KH. Syukri Ghazali, Prof. Dr. H,A. Muki Ali, Prof. Toha Yahya Umar, KH.M.Amin Nashir, Prof. H. Anton Timur Jaelani, Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML, Prof. KH, Anwar Musaddad, K.H. Mukhtar Yahya, Prof. H.A.Soenaryo, SH, KH. Ali Maksum, Drs. Busyairi, Drs. Sanusi Latif, Drs. Abdul Rahim. Lih. Tim Penyusun, Muqaddimah Tafsir Departemen Agama tahun 1984.
[3].  Tim Kedua ini beranggotakan Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML (Ketua Tim), KH. Syukri Ghazali, R.H. Hoesein Thoib, Prof. H. Bustami Abdul Ghani, Prof. K.H. Mukhtar Yahya, Drs. Kamal Mukhtar, KH.M.Amin Nashir, Prof. KH, Anwar Musaddad, K.H. Sapari, Prof. KH. Salim Fakhri, K.H. Mukhtar Lutfi el-Anshori, Dr. J.S. Badudu, K.H. M. Nur Asyik, M.A., H. A. Aziz Darmawijaya dan K.H. A. Razak.  Lihat Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), h. xxiii
[4]. Prof. DR. H.M. Atho Mudzhar (Pengarah), Drs. H. Fadhal AR Bafadal, M.Sc (Pengarah), Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, M.A. (Ketua Tim), dan anggota : Prof. K.H. Ali Musthofa Ya'qub, M.A., Drs. H. Muhammad Shohib, M.A., Prof. Dr. H. Rif'at Syauqi Nawawi, M.A., Prof. Dr. H. Salman Harun, Dr. Hj. Faizah Ali Sibromalisi, Dr. H. Muslih Abdul Karim, Dr. H. Ali Audah, Dr. H. Muhammad Hisyam, Prof. Dr. Hj. Huzaimah T Yanggo, M.A., Prof. Dr. H.M. Salim Umar, M.A., Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, M.A., Drs. H. Sibli Sardjaja, LML, Drs. H. Mazmur Sya'roni, Drs. H.M. Syatibi AH. Tim ini diukung oleh Menteri Agama selaku Pembina, K.H. Sahal Mahfudz, Prof. K.H. Ali Yafie, Prof. Drs. H. Asmuni Abdurrahman, Prof. Drs. H. Kamal Muchtar dan K.H. Syafi'I Hadzami (alm.) selaku penasehat  serta Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab dan Prof. Dr. H. Said Agil Husin al-Munawwar selaku Konsultan Ahli. Lih. Mukadimah, h. xxv.
[5]. Untuk memperoleh masukan dari para ulama dan pakar tentang tafsir al-Qur'an dan Tafsirnya, telah diadakan musyawarah Kerja UlamaalQur'an yang berlangsung tanggal 28 s/d 30 April 2003 di Bogor dan telah menghasilkan sejumlah rekomendasi dan yang paling pokok adalah perlunya dilakukan penyempurnaan tafsir tersebut. Muker ini diselenggarakan secara rutin dari tahun ke tahun untuk memperoleh masukan saran untuk penyempurnaan penerbitan tafsir edisi berikutnya. Atho Mudzhar, "Kata Pengantar" dalam Mukadimah al-Qur’an dan Tafsirnya, h. xviii-xix  
[6]. Penerbitan Penyempurnaan al-Qur'an dan Tafsirnya dilakukan secara bertahap dengan target setiap tahun bisa menyelesaikan kajian 6 juz. Pada tahun 2004, diterbitkan tafsir perdana juz 1-6, tahun 2005 diterbitkan juz 7-12, tahun 2006 juz 13-18, tahun 2007 diterbitkan juz 19-24 dan pada tahun 2008 diterbitkan juz 25-30 plus dengan buku Mukadimah secara tersendiri. Lihat, Atho Mudzhar, "Kata Pengantar" dalam Mukadimah, h. xviii-xix
[7] Muhammad Shohib, "Kata Pengantar" Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an Depag R.I., Mukadimah, h. xxiii 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar