Jumat, 26 Oktober 2012

KRITIK HADITS


KRITIK HADITS
Anggapan sebagian besar ulama islam adalah bahwa matan hadits setidak-tidaknya yang terkandung berbagai kolonik klasik adalah asli/shahih. Status kolonik yang diberikan kepada al-jami' al-sahih dari Abd Allah Muhammad ibnu ismail al-Bukhari (meninggal 256/870) dan al'jami' al-Sahih dari Abu Husayn Muslim ibnu al-Hajaj (meninggal 261/875) dan untuk sebuah tingkatan yang lebih rendah kepada kitab al-Sunan  dar Sulayman ibnu al-Ash'ath Abu Da'ud al-Sijistani (meninggal 275/889), al'jami' al-Sahih  dari Abi Isa Muhammad al-Tarmizi(meninggal 279/892-3), kitab al-Sunan  dar Abu Abd Allah Muhammad ibnu Yazid al-Raba'I al-Qazwini ibnu Majah (meninggal 273/887). Untuk 6 kitab collection ini  ditambah dengan karya yang lain , yang utama  Musnad dari Ahmad ibnu Hanbal (meninggal 241/855), namun karya-karya yang lain ini belum memperoleh sama sekali  tingkatan yang authoritas, sementara 6 kitab ini tidak kebal dari kritik. Itu secara umum percaya bahwa diantara mereka mengandung tulisan yang alsi dan sangat komplit rekaman yang tenatang kata-kata dan perbuatan nabi Muhammad. Meskipun, beberapa sarjana barat belum dermawan(selektif) menilai dari materi mereka. sebagian besar muslim merasa analisis yang tajam untuk menjadi subjek oleh  kolektor oleh penjamin
Huraian Muslim Sunni Tradisional
Bagi orang muslim, meriwayatkan kata-kata dan perbuatan nabi Muhammad adalah setua islam itu sendiri. Al-Qur'an memerintahkan untuk ke orang muslim untuk mengikuti contoh-contoh nabi muhammad dan karena itu dari sangat awal pada sahabat memperhatikan mereka dengan mengikuti sunnah(perilaku/kebiasaa(adat)) Nabi, yang telah terwujud dalam hadits yang menceritakan  kata-kata dan perbuatan beliau. Muhammmad dipikirkan telah mengambilkan beberapa penderitaan untuk meyakinkan pergunaan dan penyebaran sunnahnya.  , khalifah bani Umayyah Umar II percaya telah memerintahkan koleksi  hadits pertama dalam bentuk yang resmi, khawatir hadits mungkin akan hilang.

Awal Mula Kepercayaan Raja Barat
            Beberapa sarjana barat telah menerima, dengan beberapa syarat, dan asumsi ini dan menggunakan yang lain keaslian dan penanggalan  tentang  asal usul materi hadits adalah issu-issu yang telah menghasilkan, terus menghasilkan perdebatan yang seru/ hangat. Dalam 1848 Gastav Weil, setelah mencatat bahwa Bukhari telah mempertimbangkan 4,000 dari keaslian hadits untuk menjadi keaslian matan. Menganggap bahwa kritis orang Europa lebih lanjut memerlukan untuk menolak tanpa ragu-ragu di sebagian yang paling sedikit itu 4.000. Ia telah mengekuti oleh Aloys Sprenger, yang menganggap bahwa beberapa hadits yang tidak di anggap hadits sahih. Bagaimana pun, bahwa ada perdebatan tentang keaslian hadits di dunia barat seharusnya untuk menjadi teori-teori yang baru bagi Ignaz Goldziher. Tujuan selanjutnnya  yang diambil oleh perdebatan ini, suatu tujuan yang mefokuskan kepada peranan hadits dalam asal usul dan perkembangan  asal usul ilmu hukum muslim. Bagian besar karena karya-karya Joseph Schacht.
Goldziher dan Anjuran terhadap Scepticism
            Sementara ilmuan barat yang lain telah mengungkapkan keraguan tentang keraguan hadits sebelum Goldziher. Dia lah yang jilid yang kedua dari Muhammedanische Studien  yang pertama kali menguraikan yang jelas raguan ini. Perkenalan dengan bagian besar hadits  dalam Kutub at-tis'ah menunjukkan kecurigaan yang sceptive yang kepercayaan yang optimis. Goldziher menyimpulkan bahwa hadits ini tidak dapat digunakan sebagai document untuk sejarah pertumbuhan islam, tetapi lebih sebagi refleksi berbagai kecenderungan  yang tampak dalam masyarakat terhadap  yang lebih dewasa (berkembang)
            Goldziher kecurigaan tentang keaslian hadits sumber asal dari beberapa pengamatan. Materi yang ditemukan sebagai koleksi belakangan tidak membuat rujukan untuk membuat koleksi yang lebih awal  dan menggunakan dalam isnad mengimplikasikan secara lisan, bukan sumber tertulis. Selain itu, di mana-mana tradisi bertentangan, pengembangan biakan hadits hadits dalam koleksi yang kebelakangan yang tidak membuktikan untuk dalam peringatan awal, kenyataan bahwa sahabat-sahabat yang lebih muda tampaknya utuk lebih mengetahui tentang nabi muhammad (yakni, mereka yang meriwaytkan beberapa hadits), sahabat yang sunoir  agaknya mengetahui tentang nabi muhammad pada masa yang lebih lama, itu menunjukkan bahwa pemalsuan dalam sekala besar  hadits yang terjadi.
Joseph Schacht dan Samaran tentang Hadits
Generasi sarjana selanjutnya, Joseph Schacht sebagian terbesar terkemukan mengangkat atas tradisi Scepticism atas pendapat Goldziher dan dalam memulainya "Asal Usul ilmu hukum dari Muhammad".  Goldziher's terus belajar tentang muslim, sebagai dasar atas point yang paling sedikit dalam keberangkatan untuk beberapa studies tentang hadits di barat .
Keperhatian utama bagi Schacht adalah "asal usul hukum Islam", hukum Syara', dan keistimewa peran Syafi'I dalam memperkembangkan hukum syara', tradisi ini dan gagasan tentang teoridalam bertanggungjawaban dalam memperjuangkan Sunan, sunan khususnya dipahami sebagai model akhlak dari  Muhammad sebagai menentang (tradisi hidup) dalam masyarakat muslim. Yang mana kekuatan atau kekuatan tidak mengclaim untuk memiliki menunjukkan sebuah sanad yang bersambung dari Muhammad,  in so doing , Joseph Schacht mendiskusikan tenteng proses dalam berkembangan materi hadits pada saat itu(dan  sebab itu, keaslian kebenaran dan waktunya)
Schacht menyatakan bahwa Hadits, teristimewa dari Muhammad , bukan terbentuk bersama dengan Al-Qur'an, dasar yang asli hukum islam dan ilmu hukum sebagai tradisi yang dibuat-buat. Lebih baik, hadits adalah inovasi (pembaharuan) yang memulai setelah beberapa hukum dasar yang telah siap untuk di buat."sekolah hukum kuno memberikan consep sunnah yang lama atau 'kehidupan masyarakat' sebagai ideal praktek di masyarakat, menyatakan dalam menerima bagi doktrin di sekolah hukum kuno". Dan praktek ideal inilah  yang telah mewujudkan dalam berbagai bentuk, tetapi  tentu saja tidak ekslusip dalam hadits dari nabi. Schacht memperdebatkan bahwa hadits itu tidak sampai Syafi'I bahwa sunnah telah ekslusip memperkanalkan dengan  matan hadits dari nabi untuk mana yang dia beri, tidak untuk pada waktu pertama tetapi untuk waktu konsekwen yang pertama, menolak sumber. Asyafi'I memperdebatkan bahwa lengkap satu demi satu, hadits itu mengasingkan kembali untuk nabi. Mengira sanad itu tidak duga. Menerima lebih diutamakan daripada lengkapnya sahabat dan beberapa argumen dan semua sahabat, pengganti, kebelakangan sumber. Catatan Schacht bahwa :
Surat keterangan dua generasi sebelum Syafi'i  untuk tradisi dari sahabat dan penggantinya telah mengendalikan, untuk tradisi dari nabi sendiri tanpa kekecualian. Dan itu telah kaum kiri untuk Syafi'I untuk membuat dasar-dasar kekecualian. Kami akan membuat kesimpulan bahwa, umum dan  mengatakan lebar, tradisi dari para sahabat dan pelengkapnya  adalah permulaan ini dari Nabi.
 Tradisi yang Terus Menerus Awal Nabia Abbott
Nabia mencoba untuk berpendapat bahwa ada praktek dini dan terus menerus menulis hadits dalam Islam. dengan "awal" ia berarti bahwa para sahabat nabi sendiri terus catatan tertulis dan hadits dengan "berkelanjutan" yang hadits paling  ditransmisikan dalam bentuk tertulis (di samping transmisi oral) sampai waktu mereka disusun dalam koleksi kanonik. untuknya, maka, inilah transmisi tertulis hadits yang berfungsi sebagai jaminan keaslian mereka.
Abbott mengakui bahwa sarjana barat,seperti Goldziher dan Schacht, soal kejujuran dalam leporan yang lalu yang berkaitan selama mempunyai aktivitas dalam periode awal. Dia ditetapkan bahwa dia sendiri  yang memberikan ini sama-sama meragu-ragukan tetapi sekarang percaya mereka menyebarkan dengan tidak tepat,untuk memberi gambaran pada periode ini adalah terus menerus secara relative dan sumber yang membuktikan, Abbott  mengatakan lagi :
untuk tidak hanya ada gelar yang luar biasa dari kebulatan suara di antara para siswa dan pengikut mengagumi orang-orang ini dan seperti yang berpikiran traditionist tentang kegiatan sastra secara keseluruhan, tetapi enggan dan pada waktu mencela kesaksian oleh oposisi saksinya sastra. selanjutnya ... ada lusinan ada sezaman tersebar di seluruh kerajaan yang luas yang terlibat dalam kegiatan serupa tetapi karena satu dan yang lain  pernah menerima perhatian publik ditandai

M.M Azami dan Kritik Schacht
Azami dalam dua karya besar, Studies in Early Hadits Literature dan Schacht's Origins  of Muhammad Jurisprudence,, telah berusaha untuk memperbaiki kekurangan yang dirasakan sarjana barat pada literatur hadits dan khususnya untuk membantah teori Schacht. metodenya tidak sama sekali perbedaan dari Abbott dan itu Sezgin, tetapi fokusnya adalah. ia tidak hanya keluar untuk merebut kembali keaslian bahan hadits dalam koleksi klasik, tetapi juga untuk membuktikan keandalan isnad yang mendukung mereka.
Azami berpendapat (seperti Abbott dan Sezgin)  bahwa sudah ada aktivitas sastra intens pada masa nabi, yang ia sendiri telah sangat dianjurkan. ini berlanjut baik di alam sekuler dan agama pada masa pemerintahan Bani Umayyah. yang Azami telah menetapkan panggung untuk argumennya bahwa hadits ditulis turun bahkan pada zaman muhammad. Dia kemudian mulai daftar ratusan sahabat, penerus, dan sarjana dari 150 tahun pertama islam yang menurut dia, menuliskan hadits, bersama dengan nama-nama siswa yang diterima hadits dari mereka dalam bentuk tertulis. yaitu, ia menyatakan telah terjadi tradisi, terus menerus ditulis awal, dengan demikian menyiratkan bahwa keaslian bahan hadits lebih terjamin. dan lagi, argumen (bahwa itu adalah) adalah salah satu yang bergantung pada anggapan dan isnad mengobati dan literatur rijal sebagai independen, tetapi saling menguatkan sumber.
hadits dilengkapi dengan pembelaannya terhadap isnad. Schacht yang berpendapat bahwa, sementara sistem isnad mungkin otentik untuk hadits yang isnad berakhir dengan ulama abad kedua, mereka tentu tidak bagi mereka yang diakhiri dengan nabi atau para sahabat. Azami rusak pendapat Schacht itu menjadi enam titik utama dan membahas satu per satu.)
Pertama Azami membahas klaim yang dibuat oleh Schacht dan lain bahwa sistem isnad dimulai pada awal abad kedua atau mungkin akhir pertama. ia mengutip baik Horovitz dan Robson untuk mendukung klaimnya bahwa penggunaan isnad, seperti penggunaan catatan tertulis, sangat awal . Azami mengemukakan laporan ascribled untuk ibnu Sirin bahwa penggunaan isnad dituntut setelah fitnah itu. dan untuk Azami, datangnya fitnah dengan penggunaan isnad adalah antara Ali dan Mu'awiya (36 H).
lebih jauh lagi, Azami berpendapat bahwa ini repost menyatakan bahwa itu hanya setelah waktu yang isnad yang "menuntut" menyiratkan bahwa mereka harus telah digunakan sebelum waktu itu, meskipun mungkin kurang ketat.
kedua, pernyataan Schacht bahwa sanad adalah bagian yang paling sewenang-wenang dari hadits diserang oleh Azami. Azami menemukan bukti yang cukup untuk menolak ini transmisi lisan adat. Sezgin menyimpulkan dari ini, sekarang kita harus datang lebih dekat dengan kenyataan bahwa transmisi ini telah involed dan bahwa nama-nama authore yang terkandung dalam isnad.
Ketiga, dengan tuduhan bahwa isnad secara bertahap ditingkatkan melalui fabrikasi dan perubahan, Azami mengakui bahwa isnad yang rusak ada di materi hadits, tetapi menolak gagasan bahwa mereka menunjukkan sesuatu yang penting tentang perkembangan hadits. bahwa al-Syafii, untuk sebuah contoh, secara terbuka mengakui bahwa memori rusak itu telah menyebabkan dia melupakan bagian isnad. tradents lain, demi singkatnya, mungkin telah memilih untuk memberikan isnad tidak lengkap "membaik", ketika muncul dalam bentuk yang lebih lengkap sebuah karya kemudian.)
Keempat, Schacht menyatakan bahwa otoritas tambahan dibuat dalam waktu Syafii  untuk meniadakan kritik terhadap sebuah hadits yang "terisolasi" (yaitu, penyebaran tentang teori isnad). Azami kritik Schacht untuk menggunakan terutama argumen esilendio. hanya karena transmisi lainnya dari hadits tidak tercatat sampai nanti tidak  berarti mereka tidak ada pada waktu yang "terisolasi" satu direkam. mungkin pada waktu itu mengemukakan sebuah hadits pun yang dianggap cukup dan pengulangan berlebihan.
Kelima, seperti untuk rangkaian isnad dan pernyataan Schacht bahwa mereka adalah palsu. Argumen Azami mengutip Robson bahwa bahkan jika ada yang membuat rangkaian isnad, mereka pasti telah dimodelkan pada isnad keluarga asli, Azami menunjukkan hal itu akan lebih tepat untuk mengatakan "semua keluarga isnad yang tidak asli, dan semua keluarga tidak palsu"
Keenam, pada masalah teori Common Link, Azami menunjukkan bahwa contoh yang digunakan oleh Schacht tidak pada kenyataannya kasus link yang sama. ia menunjukkan bahwa pemeriksaan dekat dari teks al Syafii mengungkapkan bahwa ada satu chan dari nabi untuk Amr, yang kemudian ditransmisikan ke tiga dari murid-muridnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar