Kamis, 25 Oktober 2012

Segi Kenyataan Wahyu



Bermula dari pembahasaan tentang segi kenyataan wahyu dalam beberapa diskusi di kelas yang tak kunjung beres, membuat saya gereget. Betapa tidak, wahyu yang seringkali di definisikan sebagai sesuatu yang tersembunyi dan cepat itu tak mempunyai data yang komplit (maksud saya secara teks) mengenai bentuk wahyu itu sendiri.
Dosen saya terkadang menganalogikan wahyu seperti komunikasi dalam telephon, pendapat itu sama persis dengan definisi wahyu dalam sebuah buku Nasarudin MA, kalau tidak salah berbunyi seperti ini "wahyu adalah sesuatu yang tersembunyi dan cepat yang ditunjukan kepada orang yang diberitahu dan orang lain tidak mengetahui, baik melawati perantara atau pun tidak" silahkan anda berimajinasi sendiri, bagaimana kesamaan system telephon dengan definisi wahyu yang dikemukaan tadi.
Sebetulnya, mengenai wahyu al-qur'an sendiri menolak anggapan sementara orang yang memandang wahyu sebagai sesuatu yang aneh (lih. QS. Yunus : 2, bandingkan dengan Tafsir al-munir XI. hal. 143)
Penjelasan secara sekilas tentang penyebutan wahyu itu tidak akan jauh maknanya dari pengertian bahasa. Diantara maknanya ialah :
  • Wahyu bermakna Ilham Fitriyah;naluriah (lih. Al-qashas : 7)
  • Wahyu berupa isyarat (lih. Maryam : 11)
  • Wahyu sebagai perinta Allah kepada Malaikat (lih. Al-anfal : 12)
  • Wahyu terkadang digunakan dalam al-quran sebagai bisikan setan dan rayuannya mengajak manusia berbuat kejahatan (lih. Al-anam : 12 )
Namun, sekalipun wahyu masyhurnya sebagai sesuatu yang bersifat rahasia dan sangat cepat-itu tidak terbatas pada kenyataan adanya hubungan gaib antara Allah dan pribadi-pribadinya pilhan-Nya yang menerima kitab-kitab suci lewat perantara malaikat pembawa wahyu saja. Mengapa? Coba pembaca lihat QS. Asyura ayat 51..
Pembaca akan dibawa pada tiga macam gambaran tentang turunnya wahyu :
Pertama, menanamkan pengertian dalam hati seorang nabi, atau meniupkan pengertian itu kedalam jiwanya yang sadar.
Kedua, dialog dengan seorang nabi dari belakang hijjab.
Tiga, allah mengutus utusan (malaikat) kepada seorang nabi.
Dengan demikian, maka pemberitahuan yang bersifat gaib, rahasia dan sangat cepat yang dinamakan WAHYU itu, menurut al-qur'an mempunyai makna tersendiri yang sama sekali berlainan dari pengertian kerahasiaan dan kecepatan yang terdapat dalam pemahaman akan kata "pemberitahuan", baik yang digunakan orang pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang ini.
Mengenai itu Dr. Subhi Asshalih sangat menyesalkan adanya pengertian kata wahyu sebagai tercantum di dalam "kitab suci" yaitu penafsiran yang secara mendasar berbeda dengan penafsiran yang menyatukan semua pengertian tentang wahyu. Menurut kamus tersebut, wahyu : "kemanunggalan Roh Tuhan dengan Roh para penulis (kitab suci) yang memperoleg ilham untuk mengetahui hakekat kerohanian dan berita gaib. Dengan wahyu atau ilham yang diperolehnya itu mereka tidak kehilangan apa pun dari kepribadiaannya. Mereka masing-masing mempunyai caranya sendiri dalam menyusun dan mengungkap kan sesuatu"...(bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar