Rabu, 24 Oktober 2012

THANTHAWI JAUHARI DAN TAFSIR SAINSNYA


THANTHAWI JAUHARI DAN TAFSIR SAINNYA
MAKALAH
Makalah ini diajukan untuk Memenuhi Tugas Terstruktur  pada  Mata Kuliah Membahas Kitab Tafsir



Disusun Oleh:
Enjen Zaenal Mutaqin
Ikhsan Nasrullah

JURUSAN TAFSIR HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2012




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Al-Qur'an sebagai sebuah kitab suci, ternyata tidak hanya mengandung ayat-ayat yang berdimensi aqidah, syari'ah dan akhlaq semata, akan tetapi juga memberikan perhatian yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan (sains). Jika kita membaca Al-Qur'an secara seksama, akan kita temukan sangat banyak ayat-ayat yang mengajak kepada manusia untuk bersikap ilmiah, berdiri di atas prinsip pembebasan akal dari takhayul dan kebebasan akal untuk berpikir. Al-Qur'an selalu mengajak manusia untuk melihat, membaca, memperhatikan, memikirkan, mengkaji serta memahami dari setiap fenomena yang ada terlebih lagi terhadap fenomena-fenomena alam semesta yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena darinya bisa dikembangkan sains dan teknologi untuk perkembangan umat manusia dan dengan itu pula akan didapatkan pemahaman yang utuh dan lengkap.
Bukan hanya itu, ayat yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW merupakan perintah untuk membaca (ا قرا) yang  menurut Quraish Shihab, kata ini terambil dari akar kata qara'a (قرا ) yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks yang tertulis maupun tidak.  Karena kata ini objeknya bersifat umum sehingga maknanya mencakup segala sesuatu yang bisa dijangkaunya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, ayat-ayat qauliyyah maupun kawniyyah. Jika demikian adanya merupakan hal yang wajar jika orang-orang yang berpengetahuan mendapatkan derajat yang lebih tinggi karena tidaklah sama antara orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan yang tidak.
Al-Qur’an yang notabenenya menjelaskan segala hal, secara tersurat maupun tersirat telah banyak menyinggung fenomema alam (dhawahir al-‘alam), Dan itu jauh masanya sebelum manusia diera ini mengenal dan mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang sains (science). Sebagai contoh ayat yang menceritakan tentang perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan, pertama ia melihat bintang dimalam hari, lalu melihat bulan dan kemudian melihat matahari, Allah SWT. memperlihatkan fenomena alam tersebut kepada Nabi Ibrahim tidak lain hanya agar supaya ia mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. atas segala sesuatu.
Adapun terhadap ayat-ayat kawniyyah dari ayat-ayat al-Qur’an, memang tidak ada yang secara tegas dan khusus ditujukan kepada para ilmuwan untuk mengkaji, namun pada hakikatnya, mereka inilah yang diharapkan untuk terjun melakukan penelitian dan mengkaji serta memahami makna-makna yang tersurat dan yang tersirat dari ayat-ayat kawniyyah. Karena hanya orang-orang yang ahli dan mempunyai saran serta kompetensi dalam bidangnyalah yang bisa dan mampu untuk menggali secara lebih komprehensif dan teliti dalam melakukan tugas tersebut sehingga hasil dari kajian dan penelitian tersebut akan benar-benar memberikan manfaat bagi umat manusia.
Dengan demikian, besar harapan para ilmuwan-ilmuwan muslim tergerak dan termotivasi untuk mengeksplorasi ayat-ayat al-Qur’an yang berdimensi ilmiah dan berusaha menafsirkan serta menggali makna yang terkandung di dalamnya serta menjadikannya sebagai inspirasi untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi umat manusia dan dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi ini pula mendorong munculnya corak baru dalam bidang penafsiran yang dikenal pada saat ini sebagai penafsiran ilmiah atau Tafsir 'Ilmy (Sciences Exegesis) yang cukup banyak menarik perhatian para intelektual muslim dan permasalahan (Tafsir 'Ilmy) ini pula yang akan menjadi pokok pembahasan penulis dalam makalah ini.
Sebagaimana al-Qur’an telah banyak menyinggung tentang alam semesta, tafsir al-Qur’an juga mengalami kemajuan dan perkembangan corak ragamnya, tidak seperti periode awal, di era kontemporer makin bermunculan corak tafsir ‘ilmi yang salah satunya adalah mengenai al-ilm al-thabi’iyah atau ilmu sains. Thanthawi Jauhari merupakan salah satu ilmuan kontemporer yang melakukan terobosan penafsiran jenis ‘ilmi, ia menulis kitab tafsir yang diberi judul Al-Jawahir yang banyak mengupas tentang sains dan ilmu pengetahuan. Terlepas dari kontroversi boleh tidaknya tafsir bil 'ilmi, yang pasti tafsir ini memberi kontribusi penting dalam dunia penafsiran.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Thanthawi Jauhari
Thanthawi Jauhari  adalah ulama moderat yang dikenal sebagai seorang cendekiawan Muslim asal Mesir yang kesohor karena kegigihannya dalam gerakan pembaruan untuk menumbuhkan motivasi umat Islam terhadap penguasaan ilmu pengetahuan.[1] Beliau dilahirkan pada tahun 1870 M di wilayah al-Ghar, wafat tahun 1940.[2] Ia berasal dari keluarga petani yang sederhana. Namun demikian kondisi sosial tersebut tidaklah menyurutkan keinginannya untuk terus memperdalam ilmu pengetahuan khususnya kajian keislaman, sehingga kabanyakan waktunya diabdikan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan ilmu pengetahuan.
Orang tuanya menginginkannya tumbuh sebagai orang berpredikat terpelajar. Karena itu, setelah menamatkan serangkaian pendidikan formal di kota kelahirannya, ia dikirim ke universitas al-Azhar kairo untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Di universitas al-Azhar, ia bertemu dengan seorang pembaharu terkemuka, Muhammad Abduh. Baginya, Abduh bukan sekedar guru, tetapi juga mitra dialog. Pergesekan pemikiran dengan Abduh memercikkan pengaruh besar pada pemikiran dan keilmuannya terutama dalam bidang tafsir.
Sebagai akademisi, Thanthawi aktif mencermati perkembangan ilmu pengetahuan. Caranya beragam, mulai dari membaca berbagai buku, menelaah artikel di media massa, hingga menghadiri berbagai seminar keilmuan. Dari beberapa ilmu yang dipelajarinya, ia tergila-gila pada ilmu tafsir.
Di samping itu, Thanthawi juga fasih berbicara tentang fisika. Menurutnya, ilmu itu harus dikuasai oleh umat Islam. Hanya dengan cara itu maka anggapan bahwa Islam adalah agama yang menentang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat ditepis.
Dalam banyak kesempatan, hal yang kerap dikemukakan terkait harapannya adalah, perlunya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Karena dia berpendapat, secara garis besar, ilmu pengetahuan terbagi dua yakni ilmu bahasa dan selain bahasa. Thanthawi menyatakan bahwa ilmu bahasa memegang peranan signifikan dalam sebuah studi, sebab ia merupakan alat untuk menguasai beragam bidang ilmu.[3]
Pada bagian lain, Thanthawi pun membina studi Alquran, yakni guna membuktikan bahwa kitab suci umat Islam itu adalah satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu. Karena dalam pandangannya, Alquran senantiasa menganjurkan kepada umat Muslim untuk menuntut ilmu dalam arti seluas-luasnya. Pernyataan tersebut dikemukakan sambil menunjukkan bukti-bukti bahwasanya dalam Alquran terdapat banyak ayat yang memotivasi umat agar menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan.[4]
B.      Sejarah Sosial-Kultural
Mesir Pada abad XIX dan awal abad XX ditandai dengan kebangkitan gerakan intelektual yang dapat dikategorikan pada tiga kecenderungan pemikiran, yaitu: Pertama, kecenderungan pada Islam yang diwakili oleh beberapa tokoh muslim seperti, Hassan al-Banna (1906-1945); Kedua, berusaha melakukan sintesis antara Islam dan kebudayaan Barat yang diwakili oleh Muhammad Abduh (1884-1905),  Qasim Amin (1865-1908), dan Ali Abd Raziq (1865-1935); Ketiga, adanya kecenderungan rasional ilmiah dan kebebasan berfkir yang diwakili oleh Luthfi as-Sayyid dan emigran-emigran Syiria yang lari ke mesir.
Kesadaran terhadap nalar ilmiah tersebut kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Ali Pasya setelah berhasil mengusir Napoleon dari negerinya dan menundukkan kekuatan Mamluk dengan membentuk kementerian pendidikan dan mendirikan sekolah militer, sekolah tekhnik kedokteran serta banyak mendatangkan ahli-ahli dari eropa, serta banyak mengirim pelajar ke negara eropa.
Evolusi ini terus berkembang dan banyak melahirkan pemikir-pemikir cerdas serta pembaru-pembaru Islam, salah satunya adalah Thanthawi Jauhari. Sejarah sosial-kultural inilah yang tampaknya sangat mempengaruhi terhadap kecenderungan pemikiran beliau. [5]
C.      Karir Intelektual
Thanthawi mengawali pendidikannya di kota kelahirannya tersebut. setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, dia dikirim untuk melanjutkan belajar ke universitas al-Azhar di ibukota Kairo. Ketika menimba ilmu di universitas terkemuka tersebut, dia berkesempatan bertemu dengan tokoh pembaharu, Muhammad Abduh. Tokoh ini kemudian memang mampu memberikan pengaruh besar bagi pemikiran dan keilmuannya, khususnya pada bidang ilmu tafsir.[6]
 Setelah itu dia melanjutkan belajarnya ke Darul Ulum dan mampu menyelesaikan pendidikan di sana tahun 1893. Akan tetapi ia merasa kurang puas dengan program belajar yang diberikan, utamanya ilmu tafsir, yang antara lain dikarenakan bimbingan dari Muhammad Abduh sebelumnya hingga membuat dia memiliki cakrawala pemikiran yang luas. Meski begitu Thanthawi tetap bertekad menyelesaikan studinya tersebut. Setelah beberapa tahun kemudian, dia pun berhasil tamat pendidikan di Darul Ulum untuk selanjutnya berkiprah sebagai tenaga pengajar. Dia tercatat pernah menjadi guru di madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah dan kemudian sebagai dosen pada almamaternya, yakni Universitas Darul Ulum.[7] Dan lantas tahun 1912 diangkat menjadi dosen di Al-Jamiah Al-Misyriyah pada mata kuliah falsafah Islam.
Di samping mengajar, layaknya seorang cendekiawan dia pun terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan dengan membaca buku-buku serta dari artikel di majalah dan surat kabar. Selain itu pula berbagai seminar maupun pertemuan ilmu pengetahuan tidak ketinggalan dihadiri. Bidang ilmu yang menjadi fokus perhatiannya adalah ilmu tafsir. Namun dia pun mengikuti pula ilmu fisika, ilmu yang menurut pandangannya dapat menangkal kesalahpahaman yang kerap menuding Islam sebagai agama yang menentang ilmu dan teknologi modern.
D.    Akar Kemunculan dan Pengertian Tafsir ‘Ilmy
Bila kita teliti dan mencoba untuk menganalisa akar kemunculan tafsir ‘Ilmy, maka dapat kita temukan bahwa awal kemunculan tafsir ‘Ilmy ini telah melintasi beberapa periode. Tepatnya kemunculan tafsir tersebut bertolak dari zaman Abbasiyah sebagai bentuk usaha mengkompromikan teks-teks keagamaan dengan pengetahuan-pengetahuan asing yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Usaha ini terus berlanjut dan terekspose pada abad ke-5 Hijriyah. Hanya saja, tafsir ‘Ilmy baru bisa berkembang pesat di akhir abad ke-19 hingga sekarang. Hal ini dikarenakan ketertinggalam umat Islam di bidang sains dan teknologi dibandingkan dengan orang Barat yang sudah mencapai tingkat kemapanan dalam bidang sains dan teknologi.[8]
Mayoritas ulama tafsir sepakat memasukkan tafsir ‘Ilmy sebagai salah satu corak penafsiran yang secara metodologis merupakan bagian dari metode tafsir Tahlili. yang dipergunakan sebagai perangkat untuk memahami pesan-pesan Tuhan. Kemunculannya bertujuan untuk melihat seberapa jauh nilai kemu’jizatan al-Qur’an dari aspek ilmu pengetahuan dan sains modern berdasarkan prinsip dasar al-Qur’an yang menyatakan bahwa pada dasarnya al-Qur’an mencakup seluruh ilmu pengetahuan, walaupun tidak secara deatil disebutkan didalamnya karena ia memang bukan kitab pengetahuan.
Tafsir ilmy ialah penafsiran al-Qur’an yang menggunakan pendekatan istilah-istilah (term-term) ilmiah dalam rangka mengungkapkan al-Qur’an. tafsir ini berusaha keras untuk melahirkan berbagai cabang ilmu yang berbeda dan melibatkan pemikiran-pemikiran filsafat.
Menurut pendukung tafsir ilmy, model penafsiran semacam ini membuka kesempatan yang sangat luas bagi mufassir untuk mengembangkan berbagai potensi keilmuan yang telah dan akan dibentuk dalam dan dari al-Qur’an. al-Qur’an tidak hanya sebagai sumber ilmu agama yang bersifat i’tiqadiyah (keyakinan) dan amaliyah (perbuatan). Ia juga tidak hanya disebut al-‘ulum al-diniyah wal I’tiqadiyah wal amaliyah, tetapi juga meliputi semua ilmu keduniaan (al- ulum al-dunya) yang beraneka ragam jenis dan bilangannya.
Beberapa ulama yang memberi lampu hijau untuk mengembangkan tafsir ilmy ialah al-Ghazali (450-505 H/1057-1111 M), Jalal al-Din al-Suyuti (w.911 H/1505 M), Thanthawi jauhari (1287-1385 H/1870-1939 M). Muhammad Abduh (1265-1323 H/1849-1905 M). namun, tidak sedikit mufassir yang merasa keberatan terhadap penafsiran al-Qur’an yang bersifat ke-ilmu teknologian. Beberapa ulama yang mengingkari kemungkinan pengembangan tafsir ilmy adalah al-Syathibi (w.790 H/1388 M), ibnu Taimiyah (661-728 H/1262-1327 M), M. Rasyid Ridha (1282-1354 H/1865-1935 M), dan Mahmud Syaltut (13``11-1355 H/1839-1936 M).
Adapun pengertian tafsir ‘ilmi atau yang dalam terminologi Jansen disebut sebagai sejarah alam secara sederhana dapat didefinisikan sebagai usaha memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan menjadikan  penemuan-penemuan sains modern sebagai alat bantunya. Ayat al-Qur’an di sini lebih diorientasikan kepada teks yang secara khusus membicarakan tentang fenomena kealaman atau yang biasa dikenal sebagai al-ayat al-kauniyat. Jadi yang dimaksud dengan tafsir ‘ilmi adalah suatu ijtihad atau usaha keras seorang mufassir dalam mengungkapkan hubungan ayat-ayat kauniyah dalam al-Qur’an dengan penemuan-penemuan sains modern, yang bertujuan untuk memperlihatkan kemukjizatan al-Qur’an.[9]
Tafsir ‘ilmi adalah penafsiran al-Qur’an yang pembahasannya menggunakan pendekatan istilah-istilah (term-term) ilmiah dalam mengungkapkan al-Qur’an, dan seberapa dapat berusaha melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berbeda dan melibatkan pemikiran-pemikiran filsafat.[10]
Tafsir 'ilmy adalah التفسير الذى يحكم الاصطلاحات العلمية فى عبارات القران, ويجتهد فى استخراج مختلف العلوم والاراء الفلسفية منها suatu metode penafsiran yang mengukuhkan keterangan atau istilah-istilah ilmiah yang terkandung di dalam perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam al-Qur’an yang kemudian melahirkan berbagai macam pengetahuan dan teori-teori filsafat.[11]
Tafsir 'ilmy sebagai penafsiran ayat-ayat kawniyyah yang terdapat di dalam al-Qur’an dengan mengaitkannya dengan ilmu pengetahuan modern yang timbul saat sekarang.[12] Dan ada juga sebagian ulama mengartikan Tafsir ilmy’ sebagai sebuah penafsiran terhadap ayat-ayat kawniyyah yang sesuai dengan tuntutan dasar-dasar bahasa, ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian alam.[13]
Tafsir ‘ilmi ialah penafsiran al-Qur’an dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Perintah untuk menggali pengetahuan berkenaan dengan tanda-tanda Allah pada alam semesta memang banyak dijumpai di dalam al-Qur’an. Inilah alasan yang mendorong para mufasir corak ini untuk menulis tafsirnya.[14]
Secara sederhana tafsir ‘Ilmy  dapat didefinisikan sebagai upaya memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan menjadikan penemuan-penemuan sains modern sebagai alat bantunya. Sedangkan objek kajiannya adalah dikonsentrasikan kepada ayat-ayat al-Qur’an yang secara khusus ataupun umum membahas fenomena kealaman atau yang biasa dikenal sebagai ayat-ayat kauniah. Oleh karena itu yang dimaksud dengan tafsir ‘Ilmy adalah upaya mufassir menganalisa dan menginterpretasikan ayat-ayat kauniah dengan dibantu penemuan-penemuan sains modern yang bertujuan untuk mengetahui dan memelihara kemu’jizatan al-Qur’an.Dari beberapa definisi tafsir 'ilmy di atas pada intinya  adalah merupakan sebuah upaya untuk mengeksplorasi ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an khususnya ayat-ayat kawniyyah dengan berbagai cara dan metode sehingga dengan penafsiran ini akan dihasilkan teori-teori baru ilmu pengetahuan ataupun sesuatu yang berkesesuaian dengan ilmu pengetahuan modern yang ada pada saat ini. Sehingga penafsiran ini tidak dianggap sebagai sebuah “kelatahan” yang hanya berusaha men”justifikasi” setiap temuan-temuan sains saat ini sebagai sesuatu yang sudah terdapat al-Qur’an.
E.     Latar Belakang Thanthawi Jauhari dalam menulis Tafsir Al-Jawahir
Thanthawi juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Tidak kurang dari 30 buku hasil buah pemikirannya sudah dihasilkan dan mewarnai khazanah ilmu pengetahuan dunia. Di antara beberapa karya yang fenomenal adalah Al-Jawahir fii Tasir al-Qur’an, ini adalah buah karya tafsir ilmiyah pertama yang pernah diselesaikan secara sempurna. Tafsir ini terdiri dari dua puluh lima juz.
Di dalam pendahuluan tafsirnya, Thanthawi membahas tentang motivasi yang melandasi penyusunan tafsir ini. Beliau mengatakan, sesungguhnya dirinya amat sangat tertarik dengan keajaiban alam, keindahan dan keunikannya sebagai salah satu tanda akan kekuasaan-Nya. Akan tetapi sedikit sekali diantara mereka yang memikirkan dan merenunginya, oleh karena itu muncul keinginan untuk mulai mencoba menyusun sebuah tafsir yang selalu mengintegrasikan ayat-ayat al-Qur'an dengan keajaiban-kejaiban alam semesta.[15]
Lebih lanjut Thanthawi menjelaskan akan pentingnya menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an secara ilmiah, karena sesungguhnya al-Qur'an serat dengan informasi-informasi simbolik yang harus selalu dikaji untuk mendapatkan berjuta mutiara hikmah yang dikandungnya. Beliau sangat antusias dalam memberikan motivasi kepada umat Islam agar mereka mampu menjadi umat yang terbaik dengan menguasai ilmu alam, medis, pertambangan, eksak, arsitektur, astronomi serta ilmu pengetahuan yang lain. Betapa tidak, menurut beliau di dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat sains lebih dari tujuh ratus lima puluh ayat yang mampu membantu umat islam menemukan solusi untuk bisa keluar dari ke-jumud-an yang dialami selama ini.[16] Di dalam tafsirnya beliau banyak sekali menjelaskan tentang keajaiban-keajaiban sains dan makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, langit, bumi dan sebagainya, dengan harapan bisa membantu menumbuhkan kecintaan untuk terus menggali makna yang dikandung oleh al-Qur'an.[17]
Thanthawi termasyhur karena kegigihannya dalam gerakan pembaruan membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. Karena itu, tidak berlebihan jika sejumlah kalangan menjulukinya "mufasir ilmu" lantaran ilmu yang dikuasainya sangat luas dan mendalam.[18]
Dalam muqaddimah kitab tafsirnya, dijelaskan bahwa sejak dulu dia sering menyaksikan kejaiban alam, mengagumi dan merindukan keindahannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, revolusi matahari, perjalanan bulan, bintang yang bersinar, awan yang berarak, kilat yang menyambar dan listrik yang membakar serta keajaiban-keajaiban lainnya.[19]
Selanjutnya ia menyatakan :"Ketika aku berpikir tentang keadaan umat islam dan pendidikan-pendidikan agama, maka aku menuliskan surat kepada para pemikir (al-'Uqala') dan sebagian ulama-ulama besar (Ajillah al-Ulama') tantang makna-makna alam yang sering ditinggalkan dan tentang jalan keluarnya yang masih sering dilakukan dan dilupakan. Sedangkan sedikit sekali dari mereka yang mau berpikir tentang kejadian alam dan keanehan-keanehan yang melingkupinya". [20]
Itulah yang mendorong Thanthawi menyusun pembahasan-pembahasan yang dapat mengkompromikan pemikiran Islam dengan kemajuan Studi Ilmu Alam.
F.      Bentuk, Metode dan Corak Penafsiran Al-Jawahir
Untuk mengetahui bentuk, metode dan corak sebuah kirab tafsir, perlu diadakan perbandingan kitab aslinya dengan kitab tafsir yang lain. Kali ini akan diperbandingkan antara kitab Tafsir Jawahir, Tafsir al-Maraghi dan Tafsir al-Wadhih.
1.      Bentuk
Dalam berbagai macam literatur, istilah bentuk penafsiran tidak dijumpai dalam kitab-kitab 'ulum al-Qur'an (ilmu tafsir) pada abad-abad yang silam bahkan sampai periode modern sekalipun tidak ada ulama tafsir yang menggunakannya. Oleh karenanya tidak aneh bila dalam kitab-kitab klasik semisal al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an karangan al-Zarkasyi, al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an karya al-Suyuthi, dan lain-lain tidak dijumpai term tersebut.
Namun dalam buku Wawasan Ilmu Tafsir yang ditulis oleh Nashruddin Baidan, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa penafsiran yang dilakukan olah para mufasir sejak pada masa Nabi sampai dewasa ini dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni tafsir bi al-ma'tsur dan bi al-ra'y.[21]
Berangkat dari sini, tafsir Jawahir ini jika dilihat dengan apa yang telah disimpulkan oleh Nasruddin Baidan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa tafsir ini menggunakan bentuk bi al-ra'yi. Karena dalam menafsirkan suatu ayat, Thanthawi murni menggunakan pemikirannya sesuai dengan kemampuan dia selain ahli sebagai seorang mufassir, juga ahli dalam bidang fisika dan biologi. Hal ini dapat terlihat dalam contoh (terlampir), ketika dia menafsirkan penciptaan manusia dari 'alaq (علق), beliau murni menggunakan kemampuan dia sebagai seorang yang ahli biologi di samping sebagai seorang mufasir, tanpa menyebutkan suatu riwayat yang berhubungan dengan 'alaq (علق).[22]
Ini berbeda dengan penafsiran dengan bentuk bi al-Ma'tsur. Tafsir yang menggunakan bentuk bi al-ma'tsur sangat tergantung dengan riwayat. Tafsir ini akan tetap eksis selama masih ada riwayat. Kebalikannya jika riwayat habis, tafsir bi al-ma'tsur juga akan hilang.
2.      Metode
Munculnya beragam kitab tafsir tidak dapat dipisahkan dari perbedaan metode penafsiran al-Qur'an. Metode di sini diartikan dengan cara kerja yang dilakukan secara sistematis. Jadi metode tafsir adalah cara (langkah dan prosedur) yang digunakan oleh mufasir untuk memahami al-Qur'an.
Jika diamati secara cermat metode yang digunakan oleh Thanthawi dalam tafsir ini adalah metode tahlili (analitis). Metode ini berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur'an dari seluruh aspeknya. Dengan metode ini, mufasir menjelaskan al-Qur'an secara luas dan rinci. Segala hal yang bertautan dengan al-Qur'an bisa dimasukkan dalam tafsir. Kata kunci penggunaan metode ini tidak terletak pada banyak tidaknya materi penafsiran, akan tetapi pada penafsiran yang runtut dan rinci. Ruang lingkup yang luas memungkinkan tafsir dengan metode ini memuat berbagai ide.
Demikian halnya dengan metode yang dipakai dalam tafsir ini. Thanthawi dengan analisisnya sebagai seorang mufasir sekaligus seorang yang menguasai ilmu-ilmu alam memberikan penafsiran secara runtut dan terperinci dengan ruang lingkup yang amat luas. Dalam contoh (terlampir) sudah terlihat dengan jelas, bagaimana dia ketika berusaha menjelaskan apa yang dinamakan 'alaq (علق). Dapat kita lihat betapa luasnya penjabaran yang dia berikan mengenai 'alaq (علق). Bahkan sampai mencakup tiga halaman sendiri, ini jelas berbeda dengan apa yang ada dalam tafsir al-Maraghi maupun dalam tafsir al-Wadhih.
Meskipun keduanya menggunakan metode yang sama dengan metode yang dipakai dalam tafsir Jawahir. Namun uraiannya tentang 'alaq (علق) tidak seluas dengan apa yang ada dalam tafsir. Dapat dibayangkan jika dalam tafsir Jawahir untuk menguraikan tentang 'alaq saja membutuhkan tiga halaman, sedangkan dalam tafsir al-Maraghi maupun al-Wadhih hanya berkisar dua sampai tiga baris saja sungguh perbedaan yang amat mencolok. Karena seperti telah dijelaskan di atas meskipun sama-sama menggunakan metode tahlili, tetapi kata kuncinya bukan terletak pada banyaknya materi penafsiran, akan tetapi pada penafsiran yang rinci dan runtut.
3.      Corak
Corak penafsiran ialah suatu warna, arah, atau kecenderungan pemikiran atau ide tertentu yang mendominasi sebuah karya tafsir. Jadi kata kuncinya adalah terletak pada dominan atau tidaknya sebuah pemikiran ide tersebut. Tetapi bila ada satu yang dominan maka disebut corak khusus.
Sedangkan corak yang digunakan dalam tafsir ini adalah corak tafsir bil 'ilmi. Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang tafsir bil 'ilmi, ada yang menolaknya dengan alasan bahwa teori-teori ilmiah jelas bersifat nisbi (relatif) dan tidak pernah final. Tetap ada yang mendukungnya dengan alasan bahwa al-Qur'an justru menggalakkan penafsiran ilmiah.
Tetapi jika kita lihat dalam contoh, jika kita bandingkan dengan tasir lainnya, ketika ketiga tafsir sama-sama berbicara tentang 'alaq (علق) terlihat dengan jelas bahwa tafsir Jawahir ini memang menggunakan corak tafsir bil 'ilmi.
Sebagai contoh ketika ketiga tafsir berbicara tentang 'alaq (علق). Kedua tafsir (al-Maraghi dan al-Wadhih) seperti tafsir-tafsir lainnya mengartikan makna 'alaq (علق) sebagai darah yang membeku atau sepotong darah yang beku (دم جامد/قطعة دم جامدة) yang tidak mempunyai panca indra, tidak bergerak dan tidak mempunyai rambut.
Berbeda halnya ketika Thanthawi menafsirkan tentang 'alaq (علق), dia memulai dengan perbandingan antara telur yang ada pada binatang aves (sejenis burung) dengan sel telur yang ada pada manusia. Menurutnya apa yang terjadi pada binatang tersebut sama
dengan apa yang ada pada manusia. Telur pada hewan jenis burung mempunyai apa yang dinamakan putih dan kuning telur. Dan apa yang dinamakan jurtsumah (جرثومة), di mana jurtsumah ini yang menjadi dasar pembentukan manusia.
Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika Thanthawi menafsirkan kata tersebut dia menggunakan ilmu biologi, berbeda jauh dengan yang dipakai oleh Maraghi maupun Hijazi. Hal ini membuktikan bahwa memang corak yang dipakai oleh Thanthawi adalah corak bil 'ilmi, menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan pendekatan ilmiah, atau menggali kandungannya berdasarkan teori-teori ilmu pengetahuan yang ada.
Namun yang perlu diingat adalah tidak ada ayat al-Qur'an yang bersifat ilmiah, karena al-Qur;an adalah wahyu dan kebenarannya berdifat mutlak. Sedangkan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah kebenarannya bersifat relatif. Al-Qur'an bukanlah kitab ilmu melainkan kitab hudan bagi manusia. Tetapi petunjuk al-Qur'an ada yang berbentuk lafdzi, isyarat, qiasi dan yang tersurat berkenaan dengan ilmu pengetahuan guna mendukung fungsinya sebagai hudan.

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Thanthawi Jauhari  adalah ulama moderat yang dikenal sebagai seorang cendekiawan Muslim asal Mesir yang kesohor karena kegigihannya dalam gerakan pembaruan untuk menumbuhkan motivasi umat Islam terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. Beliau dilahirkan pada tahun 1870 M di wilayah al-Ghar, wafat tahun 1940.
Dalam muqaddimah kitab tafsirnya, dijelaskan bahwa sejak dulu ia sering menyaksikan kejaiban alam, mengagumi dan merindukan keindahannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, revolusi matahari, perjalanan bulan, bintang yang bersinar, awan yang berarak, kilat yang menyambar dan listrik yang membakar serta keajaiban-keajaiban lainnya. Selanjutnya ia menyatakan :"Ketika aku berpikir tentang keadaan umat islam dan pendidikan-pendidikan agama, maka aku menuliskan surat kepada para pemikir (al-'Uqala') dan sebagian ulama-ulama besar (Ajillah al-Ulama') tantang makna-makna alam yang sering ditinggalkan dan tentang jalan keluarnya yang masih sering dilakukan dan dilupakan. Sedangkan sedikit sekali dari mereka yang mau berpikir tentang kejadian alam dan keanehan-keanehan yang melingkupinya". Itulah yang mendorong Thanthawi menyusun pembahasan-pembahasan yang dapat mengkompromikan pemikiran Islam dengan kemajuan Studi Ilmu Alam.
Tafsir ilmy ialah penafsiran al-Qur’an yang menggunakan pendekatan istilah-istilah (term-term) ilmiah dalam rangka mengungkapkan al-Qur’an. tafsir ini berusaha keras untuk melahirkan berbagai cabang ilmu yang berbeda dan melibatkan pemikiran-pemikiran filsafat.
Tafsir ini menggunakan bentuk bi al-ra'yi. Karena dalam menafsirkan suatu ayat, Thanthawi murni menggunakan pemikirannya sesuai dengan kemampuan dia selain ahli sebagai seorang mufassir, juga ahli dalam bidang fisika dan biologi. Hal ini dapat terlihat dalam contoh (terlampir), ketika dia menafsirkan penciptaan manusia dari 'alaq (علق), beliau murni menggunakan kemampuan dia sebagai seorang yang ahli biologi di samping sebagai seorang mufasir, tanpa menyebutkan suatu riwayat yang berhubungan dengan 'alaq (علق).
Jika diamati secara cermat metode yang digunakan oleh Thanthawi dalam tafsir ini adalah metode tahlili (analitis). corak yang digunakan dalam tafsir ini adalah corak tafsir bil 'ilmi.



DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Husein Adz Dzahabi, at Tafsir wa al Mufassirun, (Maktabah Mus’ab bin Umair al Islamiyah).t.th.
Baidan, Nashruddin, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005.
Hijazi, Muhammad Mahmud, Tafsir al-Wadhih, jilid 3, Beirut, Dar al-Jil, 1993.
Jauhari, Thanthawi, al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an al-Karim, (dalam software Maktabah Syamilah )
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa, Tafsir al-Maraghi Jilid 10, Beirut, Dar al-Fikr, t.th.
http://nazil06.blogspot.com/2010/01/tafsir-jawahir.html. (diakses pada tanggal
14 Oktober  2012)
Muhammad  Nor  Ichwan. Tafsir ‘Ilmiy Memahami Al-Qur’an Melalui Pendekatan Sains Modern. (Yogyakarta: Menara Kudus, 2004)
Muhammad  Amin Suma. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an 2. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001)
Sayyid Agil Husin al-Munawwar. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat Press, 2002)
Mursi Ibrahim al-Bayuni. Dirasat fi Tafsir al-Mudhu’iy (Kairo: Dar al-Taufiqiyyah Li al-Thaba’ah, 1970)
Quraisy Shihab, dkk. Sejarah dan Ulum Al-Qur’an.(Jakarta: Pustaka Fi


[1] Jamal Mustafa Abdul Hamid an-Najjar, Tabaqat wa Ittijahat ta-Tafsiriyah, (Cairo, t.p, t.th), hlm. 258
[2] Muhammad Hussain ad-Dzahabi , At-Tafsir wa al-Mufassirun, (Cairo: Maktabah Wahabah, 2003), Vol. II, hlm. 370.
[3] "Tantawy Jauhari:Motivator Umat dalam Penguasaan Ilmu",
http://rezaervani.com/rezapedia/tampilkan.php?index= tantawyjauhari&huruf=t, di akses 14 Oktober
[4] Ibid.
[5] Hendar Riyadi, Tafsir Emansipatoris: Arah Baru Studi Tafsir Al-Qur'an, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 121-124.
[6] Opcit. Tantawy Jauhari: Motivator…
[7] Manna’ al-Qattan, Mabahist fii Ulum al-Qur’an, (Riyadh: Maktabah Ma’arif, 1996), hlm. 382.
[8] Lihat M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Mizan, 2007), hlm. 101.
[9] Muhammad  Nor  Ichwan. Tafsir ‘Ilmiy Memahami Al-Qur’an Melalui Pendekatan Sains Modern. (Yogyakarta: Menara Kudus, 2004) hlm 127
[10] Muhammad  Amin Suma. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an 2. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001) hlm. 135
[11] M. Husain al-Zahabiy. Opcit. hlm. 474
[12] Sayyid Agil Husin al-Munawwar. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat Press, 2002) hlm.72
[13] Mursi Ibrahim al-Bayuni. Dirasat fi Tafsir al-Mudhu’iy (Kairo: Dar al-Taufiqiyyah Li al-Thaba’ah, 1970) hlm.20
[14] Quraisy Shihab, dkk. Sejarah dan Ulum Al-Qur’an.(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) hlm. 183
[15] Thanthawi Jauhari, Jawahir fii Tafsir al-Qur'an al-Karim, (Beirut: dar el-Fikr, t.th), vol. 1, Pendahuluan, hlm. 2
[16] Ibid., hlm. 3.
[17] Ibid., hlm. 3.
[18] M. Husain al-Zahabiy. Opcit. hlm. 452
[19] Jauhari, Thanthawi, al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an al-Karim, hlm.  (dalam software Maktabah Syamilah )
[20] Ibid. hlm.
[21] Baidan, Nashruddin, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005. hlm. 
[22] Ibid. hlm. 

 
ABSTRAKSI
THANTHAWI JAUHARI DAN TAFSIR SAINSNYA
Oleh: Enjen Zaenal Mutaqin, Ikhsan Nasrullah, dan Darman

A.     Biografi Thanthawi Jauhari
Pada tahun 1870 M di wilayah al-Ghar, Thanthawi Jauhari dilahirkan. Ia berasal dari keluarga petani yang sederhana. Namun orang tuanya menginginkannya tumbuh sebagai orang berpredikat terpelajar. Karena itu, setelah menamatkan serangkaian pendidikan formal di kota kelahirannya, ia dikirim ke universitas al-Azhar kairo untuk mendalami ilmu-ilmu agama.
Di universitas al-Azhar, ia bertemu dengan seorang pembaharu terkemuka, Muhammad Abduh. Baginya, Abduh bukan sekedar guru, tetapi juga mitra dialog. Pergesekan pemikiran dengan Abduh memercikkan pengaruh besar pada pemikiran dan keilmuannya terutama dalam bidang tafsir.
Sebagai akademisi, Thanthawi aktif mencermati perkembangan ilmu pengetahuan. Caranya beragam, mulai dari membaca berbagai buku, menelaah artikel di media massa, hingga menghadiri berbagai seminar keilmuan. Dari beberapa ilmu yang dipelajarinya, ia tergila-gila pada ilmu tafsir.
Di samping itu, Thanthawi juga fasih berbicara tentang fisika. Menurutnya, ilmu itu harus dikuasai oleh umat Islam. Hanya dengan cara itu maka anggapan bahwa Islam adalah agama yang menentang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat ditepis.
B.     Metode dan Pengertian Tafsir ‘Ilmy
Tafsir ilmy ialah penafsiran al-Qur’an yang menggunakan pendekatan istilah-istilah (term-term) ilmiah dalam rangka mengungkapkan al-Qur’an. tafsir ini berusaha keras untuk melahirkan berbagai cabang ilmu yang berbeda dan melibatkan pemikiran-pemikiran filsafat.
Menurut pendukung tafsir ilmy, model penafsiran semacam ini membuka kesempatan yang sangat luas bagi mufassir untuk mengembangkan berbagai potensi keilmuan yang telah dan akan dibentuk dalam dan dari al-Qur’an. al-Qur’an tidak hanya sebagai sumber ilmu agama yang bersifat i’tiqadiyah (keyakinan) dan amaliyah (perbuatan). Ia juga tidak hanya disebut al-‘ulum al-diniyah wal I’tiqadiyah wal amaliyah, tetapi juga meliputi semua ilmu keduniaan (al- ulum al-dunya) yang beraneka ragam jenis dan bilangannya.
Dari beberapa definisi tafsir 'ilmy pada intinya  adalah merupakan sebuah upaya untuk mengeksplorasi ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an khususnya ayat-ayat kawniyyah dengan berbagai cara dan metode sehingga dengan penafsiran ini akan dihasilkan teori-teori baru ilmu pengetahuan ataupun sesuatu yang berkesesuaian dengan ilmu pengetahuan modern yang ada pada saat ini.
C.     Latar Belakang Thanthawi Jauhari dalam menulis Tafsir Al-Jawahir
Dalam muqaddimah kitab tafsirnya, dijelaskan bahwa sejak dulu dia sering menyaksikan kejaiban alam, mengagumi dan merindukan keindahannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, revolusi matahari, perjalanan bulan, bintang yang bersinar, awan yang berarak, kilat yang menyambar dan listrik yang membakar serta keajaiban-keajaiban lainnya.
Selanjutnya ia menyatakan :"Ketika aku berpikir tentang keadaan umat islam dan pendidikan-pendidikan agama, maka aku menuliskan surat kepada para pemikir (al-'Uqala') dan sebagian ulama-ulama besar (Ajillah al-Ulama') tantang makna-makna alam yang sering ditinggalkan dan tentang jalan keluarnya yang masih sering dilakukan dan dilupakan. Sedangkan sedikit sekali dari mereka yang mau berpikir tentang kejadian alam dan keanehan-keanehan yang melingkupinya".
Itulah yang mendorong Thanthawi menyusun pembahasan-pembahasan yang dapat mengkompromikan pemikiran Islam dengan kemajuan Studi Ilmu Alam.
D.     Bentuk, Metode dan Corak Penafsiran Al-Jawahir
Untuk mengetahui bentuk, metode dan corak sebuah kirab tafsir, perlu diadakan perbandingan kitab aslinya dengan kitab tafsir yang lain. Kali ini akan diperbandingkan antara kitab Tafsir Jawahir, Tafsir al-Maraghi dan Tafsir al-Wadhih.
1.      Bentuk
Tafsir ini menggunakan bentuk bi al-ra'yi. Karena dalam menafsirkan suatu ayat, Thanthawi murni menggunakan pemikirannya sesuai dengan kemampuan dia selain ahli sebagai seorang mufassir, juga ahli dalam bidang fisika dan biologi. Hal ini dapat terlihat dalam contoh (terlampir), ketika dia menafsirkan penciptaan manusia dari 'alaq (علق), beliau murni menggunakan kemampuan dia sebagai seorang yang ahli biologi di samping sebagai seorang mufasir, tanpa menyebutkan suatu riwayat yang berhubungan dengan 'alaq (علق).
Ini berbeda dengan penafsiran dengan bentuk bi al-Ma'tsur. Tafsir yang menggunakan bentuk bi al-ma'tsur sangat tergantung dengan riwayat. Tafsir ini akan tetap eksis selama masih ada riwayat. Kebalikannya jika riwayat habis, tafsir bi al-ma'tsur juga akan hilang.
2.      Metode
Jika diamati secara cermat metode yang digunakan oleh Thanthawi dalam tafsir ini adalah metode tahlili (analitis). Metode ini berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur'an dari seluruh aspeknya. Dengan metode ini, mufasir menjelaskan al-Qur'an secara luas dan rinci. Segala hal yang bertautan dengan al-Qur'an bisa dimasukkan dalam tafsir. Kata kunci penggunaan metode ini tidak terletak pada banyak tidaknya materi penafsiran, akan tetapi pada penafsiran yang runtut dan rinci. Ruang lingkup yang luas memungkinkan tafsir dengan metode ini memuat berbagai ide.
Demikian halnya dengan metode yang dipakai dalam tafsir ini. Thanthawi dengan analisisnya sebagai seorang mufasir sekaligus seorang yang menguasai ilmu-ilmu alam memberikan penafsiran secara runtut dan terperinci dengan ruang lingkup yang amat luas. Dalam contoh (terlampir) sudah terlihat dengan jelas, bagaimana dia ketika berusaha menjelaskan apa yang dinamakan 'alaq (علق). Dapat kita lihat betapa luasnya penjabaran yang dia berikan mengenai 'alaq (علق). Bahkan sampai mencakup tiga halaman sendiri, ini jelas berbeda dengan apa yang ada dalam tafsir al-Maraghi maupun dalam tafsir al-Wadhih. Meskipun keduanya menggunakan metode yang sama dengan metode yang dipakai dalam tafsir Jawahir. Namun uraiannya tentang 'alaq (علق) tidak seluas dengan apa yang ada dalam tafsir. Dapat dibayangkan jika dalam tafsir Jawahir untuk menguraikan tentang 'alaq saja membutuhkan tiga halaman, sedangkan dalam tafsir al-Maraghi maupun al-Wadhih hanya berkisar dua sampai tiga baris saja sungguh perbedaan yang amat mencolok. Karena seperti telah dijelaskan di atas meskipun sama-sama menggunakan metode tahlili, tetapi kata kuncinya bukan terletak pada banyaknya materi penafsiran, akan tetapi pada penafsiran yang rinci dan runtut.
3.      Corak
Corak yang digunakan dalam tafsir ini adalah corak tafsir bil 'ilmi. Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang tafsir bil 'ilmi, ada yang menolaknya dengan alasan bahwa teori-teori ilmiah jelas bersifat nisbi (relatif) dan tidak pernah final. Tetap ada yang mendukungnya dengan alasan bahwa al-Qur'an justru menggalakkan penafsiran ilmiah. Tetapi jika kita lihat dalam contoh, jika kita bandingkan dengan tasir lainnya, ketika ketiga tafsir sama-sama berbicara tentang 'alaq (علق) terlihat dengan jelas bahwa tafsir Jawahir ini memang menggunakan corak tafsir bil 'ilmi.
Sebagai contoh ketika ketiga tafsir berbicara tentang 'alaq (علق). Kedua tafsir (al-Maraghi dan al-Wadhih) seperti tafsir-tafsir lainnya mengartikan makna 'alaq (علق) sebagai darah yang membeku atau sepotong darah yang beku (دم جامد/قطعة دم جامدة) yang tidak mempunyai panca indra, tidak bergerak dan tidak mempunyai rambut.
Berbeda halnya ketika Thanthawi menafsirkan tentang 'alaq (علق), dia memulai dengan perbandingan antara telur yang ada pada binatang aves (sejenis burung) dengan sel telur yang ada pada manusia. Menurutnya apa yang terjadi pada binatang tersebut sama dengan apa yang ada pada manusia. Telur pada hewan jenis burung mempunyai apa yang dinamakan putih dan kuning telur. Dan apa yang dinamakan jurtsumah (جرثومة), di mana jurtsumah ini yang menjadi dasar pembentukan manusia.
Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika Thanthawi menafsirkan kata tersebut dia menggunakan ilmu biologi, berbeda jauh dengan yang dipakai oleh Maraghi maupun Hijazi. Hal ini membuktikan bahwa memang corak yang dipakai oleh Thanthawi adalah corak bil 'ilmi, menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan pendekatan ilmiah, atau menggali kandungannya berdasarkan teori-teori ilmu pengetahuan yang ada. Namun yang perlu diingat adalah tidak ada ayat al-Qur'an yang bersifat ilmiah, karena al-Qur;an adalah wahyu dan kebenarannya berdifat mutlak. Sedangkan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah kebenarannya bersifat relatif. Al-Qur'an bukanlah kitab ilmu melainkan kitab hudan bagi manusia. Tetapi petunjuk al-Qur'an ada yang berbentuk lafdzi, isyarat, qiasi dan yang tersurat berkenaan dengan ilmu pengetahuan guna mendukung fungsinya sebagai hudan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar