Rabu, 24 Oktober 2012

tafsir Ilmi


A.  Hal-hal yang menjadi kecenderungan dalam masalah tafsir Ilmi
Diantara penelitian pendukung dan penentang tafsir ilmiah, ada satu pendapat yang terkhusus dengan tema ini, tetapi sebelumnya akan saya uraikan hal-hal berikut yang kedua kelompok tersebut meyakini sebagai kesempurnaan iman.
1.    Islam menganjurkan menuntut ilmu dan memuliakan ahlinya.
2.    Ilmu yang dianjurkan agama Islam adalah ilmu yang memberi petunjuk manusia kepada kelakuan yang lebih baik dan masa akan datang yang lebih mantap, baik ilmu agama maupun ilmu duniawi
3.    Bahwa Alquran membahas segala cipataan Allah dan mengajak berpikir terhadap bagusnya ciptaan Allah. Alquran tidak diturunkan untuk menjadi ilmu bintang, arsitektur, kedokteran atau sebagai rujukan ilmu pertanian, kelautan, dan lain-lain, tetapi Alquran membahas ini hanya sebagai tinjauan ulama dan lainnya kepada sang pencipta dan untuk mengesakan-Nya.
4.    Kemu’jizatan Alquran tidak hanya terkhusus pada satu hal saja untuk menyesuaikan dengan penemuan-penemuan ilmiah modern bagi sebagian ayat-ayat Alquran, tetapi kemu’jizatan Alquran sudah ada sebelum dan sesudah penemuan ilmiah modern
5.    Mustahil bila penemuan ilmiah bertentangan dengan Alquran, karena mustahil antara ucapan dengan perbuatan Allah terdapat pertentangan, karena yang menciptakan sesuatu dan yang meurunkan Alquran adalah satu, yaitu Allah Swt.
6.    Untuk membuktikan kebenaran Alquran tidak perlu dengan penemuan-penemuan terbaru, tetapi penemuan baru itulah kadang-kadang perlu dibuktikan kebenarannya. Intinya, untuk menentukan seimbang atau benar perkataan Allah bukanlah dengan pendapat manusia.
7.    Ibarat Alquran mempunyai kandungan makna yang paling benar dalam segala lini kehidupan, bukan sebaliknya.
8.    Penemuan ilmiah hakikatnya adalah suatu  permasalahan, dan menggampangkan dalam penafsiran Alquran melalui hakikat ilmiah adalah permasalahan yang lain. Bukanlah suatu penemuan ilmiah dikatakan ilmiah adalah mendalami apa yang tidak sanggup didalaminya.
Kalau boleh saya berpendapat, bahwa wajib bagi kita membersihkan Alquran dari sifat yang tidak Allah sampaikan, karena Allah menurunkan Alquran bukanlah untuk mengajari manusia ilmu kedokteran, perbintangan, kimia, dan lain-lain. Namun demikian, tidaklah antara Alquran dengan ilmu pengetahuan terdapat kontradiktif dan Islam lari dari ilmu pengetahuan.
Berikutnya, saya berpendapat tidak menjadi suatu keharusan ulama kontemporer untuk mengarang kitab yang panjang atau tidak untuk membicarakan ayat-ayat Alquran dari segi ilmu modern. Seandainya juga mereka tetap berkeinginan melakukana penafsirannya, tetapi saya melihat adanya ketidaksinambungan antara ayat-ayat dengan penjelasan mereka pada kebanyakannya, sebagai contohnya kitab tafsir “Jawahir AlQuran” karya Thantawi Jauhary.
Namun demikian, bukan bermaksud AlQuran melarang muncul hal-hal baru sebagai kemu’jizatan Alquran, misalnya ada sisi penemuan yang sesuai dengan masa sekarang. Para ulama mengatakan, Alquran memberikan wilayah khusus dalam pembuktian. Hal ini berdasarkan, jika kita temukan penemuan ilmiah  yang ada dalam Alquran, maka tidak ada larangan kita mengatakan, bahwa hal itu adalah masuk dalam kandungan Alquran. Tetapi kita tidak harus meyakininya, karena penemuan ilmiah yang ditafsirkan oleh ulama tidak disebutkan dalam nash AlQuran.
Selanjutnya, apabila penemuan ilmiah oreientasinya untuk perkembangan zaman, maka hal itu masuk dalam kandungan ayat Alquran. Namun, bila terjadi ketimpangan maka jangan menyalahi Alquran, karena nash Alquran tidak menyatakan sebuah nash yang melebihi dari suatu hakikat, tetapi kesalahan hanya ditujukan kepada pada adanya penemuan ilmiah semata. Contohnya; sebagian ulama kontemporer, dalam menafsirkan; ومن كل شئ خلقنا زوجين لعلكم تذكرون., maksud dari kalimat Zaujaini adalah dua hal yang berbeda dari jenis laki-laki dan perempuan, apakah itu pada manusia, hewan, dan benda mati. Mereka berpendapat, jika tinjauan terbaru dari asal kejadian sesuatu dari semua ciptaan baik yang hidup atau yang mati adalah dari dua pasangan yaitu sperma dan ovum.  Dari sini, saya mengatakan perkataan Alquran juga mengandung makna ini, tetapi Alquran tidak menentukan seperti itu.

B.  Penemuan ilmiah termasuk dalam bagian kandungan makna-makna Alquran disebabkan beberapa hal sebagai berikut:
1.    Bagian penafsiran ini memerlukan kehatian-hatian, banyak yang tersalah dalam hal tersebut, karena saya melihat perlu bagi yang mendalami tafsir ini untuk mempunyai pegangan ilmu agama dan dunia sekaligus.
2.    Harus bagi kita mengkaji Alquran terhadap semua hal-hal yang pokok . Bila ada yang sesuai dengan penemuan modern,  maka kita terima, kalau sebaliknya ditolak. Maka kajian yang hanya untuk tujuan perobaan dan perbandingan hal itu tidak mengapa.
3.    Harus menjaga segala makna kosa kata berdasarkan kosa kata yang digunakan pada masa Alquran diturunkan dan yang dikembangkan pada masa Nabi.
4.    Tidak boleh meninggalkan esensi lafad Alquran dan beralih kepada makna majaz.
5.    Tidak terlepas dari kaidah-kaidah gramatikal.
6.    Harus menjaga gaya bahasa balaghahnya.
7.    Berpegang pada makna yang lebih banyak sahih terhadap kandungan Alquran.
8.    Harus mengkromikan ayat-ayat yang berbicara tentang masalah ilmiah.
9.    Jangan spontan meyakini apa yang dihasilkan dari penemuan ilmiah.
Sebagai landasan hal-hal yang diatas adalah:

 “Wajib terus menerus mempelajari tentang hakikat manusia. Adapun hakikat Allah ini sudah final kajiannya. Intinya dua masalah ini adalah wilayah kajian yang berbeda.”


Inilah suatu pendapat saya dalam masalah ini dan ada yang sepakat dan ada juga yang tidak. Saya gambarkan sebuah bahasan tentang hal ini dari Sayyid Qutub sebagai berikut, ia berkata pada pertengahan penafsiran (يسألونك عن الآهلة قل هي مواقت للناس والحج) dari surat al-Baqarah:189. jawaban “Ilmiah” dari pertanyaan ini terkadang menjadi sebuah anugerah bagi penanya sebuah kajian ilmu terkait ilmu perbintangan disebabkan diantara mereka ada yang sanggup memahaminya.
Isi Alquran yang menjadi pengamalan manusia adalah zat, daya pikir, keyakinan, perasaan, pemahaman, jalan, segala amalan, segala keterikatan, dan hubungannya.
Adapun ilmu yang bersifat materi dan kejadian dalam alam materi dengan segala perantaraan dan jenis-jenisnya adalah itu dipercayakan kepada akal manusia berdasarkan ketentuan dan kebiasaan kejadian dunia.
Dalam hal ini, Alquran membolehkan supaya tidak terjadi kerusakan dan membuat aturan sebagai kelangsungan hidup dan hal-hal lain yang menjadi kebutuhan dalam mengolah bumi ini. Alquran adalah kitab yang sempurna kajiannya. Kajiannya lebih luas dibandingkan semua ilmu yang lain. Penelitian dan percobaan adalah bagian dari focus akal dan Alquran mengarahkannya.
Setiap proses untuk menjelaskan isyarat-isyarat Alquran secara umum dengan sesuatu yang lain sampai kepada tinjauan baru atau hakikat penemuan ilmiah, hal itu melewati metode dasar yang salah pada awalnya, seperti ada tiga makna yang tidak sesuai dengan Alquran;
1.    kecerobohan yang membuat bimbang sebagian manusia, bahwa ilmu adalah Tuhan dan Alquran sebagai pengikut. Jika demikian, maka terjadilah penyelewengan dalam menentukan Alquran dengan ilmu atau bagian dari ilmu.
2.    Jelek memahami Alquran dan sifatnya
3.    Takwil yang kelewatan dan memberatkan dalam memahami nash-nash Alquran
Walaupun demikian, semua hasil penemuan dan hakikat sesuatu, kejadian, kehidupan, dan manusia adalah dipahami dari Alquran, sedangkan kita tidak mampu. Allah berfirman; سنريهم أياتنا فالأفاق وفي أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق
Bagaimana kita menjelaskan nash-nash Alquran dengan dalil yang tidak final dan pasti. Allah berfirman;   وخلق كل شيئ فقدوه تقديرا ( dari ayat itu Allah lah yang membuka pemahaman ilmiah), خلقنا الأنسان من سلالة من طين , (menemukan tinjauan pertumbuhan dan perkembangan)  , والشمس تجري لمستقر لها , (menemukan hakikat dari perputaran matahari.
Ilmu mengatakan, matahari berjalan dibandingkan dengan bintang-bintang dengan kecepatan ukuran 12 mil. Sedangkan putarannya dibandingkan dengan satu bintang berkecepatan 170 mil. Hal seperti ini bukanlah bagian dari dalil-dalil Alquran. Putaran matahari menghasilkan tinjauan sebuah hakikat tanpa penghabisan. Sedangkan ayat-ayat Alquran memberikan kepada kita suatu yang sudah pasti, yaitu matahari berputar.

C.  Karya-karya terpenting tentang tafsir ilmi
Para pendukung tafsir ilmi ini khususnya masa sekarang banyak sekali dan banyak karya-karya dari mereka, tetapi suatu yang mengherankan adalah sebagian mereka dalam menyusun karya mereka tidak saya temukan landasan yang kongkrit dalam ilmu syariat atau ilmu modern, melainkan hanya mengambil disana sini sehingga menjadi sebuah karya mereka. Sebagian karya mereka adalah:
1.    al-Jawahir fi tafsir al-Quran al-Karim, karya al-Syaikh Thantawi Jauhari
2.    al-Quran wa al-‘Ulum al-‘Ashriyah, karya
3.    al-Islam wa al-Tibb al-Hadits, karya Tabib Abdu al-‘Aziz Ismail
4.    al-‘Ijaz al-‘Adad lil al-Quran al-Karim, Karya Abdu al-Razzaq Naufal
5.    al-Quran wa al-Ilmu al-Hadits
6.    al-Islam fi ‘Ashri al-Ilmu, DR. Muhammad Ahmad al-Ghamrawi
7.    al-Tafsir al-Ilmi li al-Ayat al-Kauniyah fi al-Quran, karya Hanafi Ahmad
8.    Tafsir al-Ayat al-Kauniah, DR. Abdullah Syahatah
9.    Ayat Allah Ta’ala, Muhammad Wafa al-Amiri
10. al-‘Ijaz al-Ilmi fi Islam, karya Muhammad Kamil Abdu al-Shamad
11.al-Tibb al-Waqai fi Islam, karya DR. Ahmad Syauqi al-Fanjari
12. Dirasat al-Kitab al-Muqaddasah fi Dzau al-Muarif al-Haditsah, karya Tabib al-Faransi, Mauris Bucael.
13.Khalqu al-Insan baina al-Thib wa al-Quran, karya Muhammad Ali al-Bari
14.al-Muqaranat al-Ilmiyah wa al-Kitabiyah baina al-KItab al-Samawiyah, karya DR. Mumammad Kamil al-Shadiqi

   D.  Contoh sebagian penyelewengan dari tafsir ilmi
Sebagian karya yang terkenal dalam tafsir ini adalah kitab “al-Janib al-Ilmi fi al-Quran” karya DR. Shalahuddin Khattab yang mengandung beberapa contoh ini, tetapi saya menyebutkan tiga contoh saja:
1.   Dalam penafsiran (ويقذفون بالغيب من كان بعيد...(سبا:5)) , ia menafsirkan dengan semacam corong untuk berbicara, seperti telepon dan yang memanggil, seperti telegram dan televisi atau radio. Ini adalah hal yang mengherankan, karena pada dasarnya ayat tersebut adalah berbicara tentang orang-orang kafir, tetapi ada orang yang menafsirkan menurut keinginannya tanpa melihat alur beritanya. Ibnu Katsir berkata dalam penafsiran ayat ini;
     Malik berkata dari Zaid bin Aslam; ويقذفون بالغيب  , ia mengatakan perkiraan saya ada yang menafsirkan dengan tukang syair, tukang kahin, tukang sihir, orang gila dan sebagainya dari penafsiran yang salah.
2.   Dibawah tema “"القنابل والغواصات و الألغام   , DR Shalahuddi Khattab meletakkan ayat yang berhubungan, yaitu; “قل هوالقادر على أن يبعث عليكم عذابا من فوقكم أو من تحت أرجلكم , ia mengatkan; azab yang disampaikan dalam ayat sesuai dengan sekelompok burung yang turun dari tempat tinggi. Adapun azab yang dibawah kaki itu mengisyarah kepada buih mulut onta yang menimpa tanah.
3.   Dari firman Allah: حتى اذا أخذت الأرض زخرفها و ازينت وظن أهلها أنهم قادرون علبها أتاها أمرنا ليلا أو نهارا فجعلناها حصيدا كأن لم تغن بالأمس...يونس: 24  , orang yang merasa mampu mengatakan; ayat ini menunjuki kepada dalil yang final terhadap kelompok az-zariyat, karena orang-orang kafir dan orang yang mempunyai sifat buruk dalam dunia ini, mareka menyangka mampu menciptakan kedamaian, pembangunan, keindahan dan rekontruksi yang orang lain tidak mampu, tetapi setelah mendalami sepak terjang mereka, maka jelaslah siapa mereka dan dipahamkan dari ayat ini, bahwa Allah swt menempatkan kekusaan sebagian kelompok azzariyat terhadap sebagian, maka terjadilah saling memerangi. Hal inilah yang menyebabkan rusak dunia dan menjadi padang tandus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar